Powered By Blogger

Selasa, 13 Desember 2011

Cahaya Bintang

Pagi ini matahari bersinar cukup terang. Namun yang terlihat hanya kegelapan bagi Keizha. Keizha mengalami kebutaan pada kedua matanya sejak dia berumur 8 tahun karna kecelakaan yang menimpanya. Kini umur Keizha sudah 18 tahun. Keizha tumbuh menjadi gadis yang baik dan cantik. Dia sering di puji oleh para tetangganya tentang kecantikan yang Dia miliki.

Kheiza mempunyai adik perempuan bernama Andin yang berumur 14 tahun yang sekarang duduk di kelas 3 SMP. Beberapa orang mengira bahwa Keizha dan Andin adalah anak kembar karena paras yang sama. Dan Andin yang biasa memasak makanan untuk keluarganya. Keluarga Keizha berasal dari keluarga yang sederhana. Ayah Keizha bekerja sebagai pemulung yang sehari hanya mendapatkan 10-20 ribu per hari. Dan Ibu Keizha sudah meninggalkan keluarga Keizha sejak Andin bayi dan menikah dengan pria lain.


“Kak, ini makannya sudah siap..” kata Andin dari balik pintu kamar Keizha.

Iya..” jawab Keizha. Keizha segera mengambil Tongkatnya dan berjalan pelan menuju meja makan. Di sana ada Andin yang sudah berpakaian sekolah dengan rapi.

Keizha mencium bau makanan yang sangat lezat saat Dia keluar kamar.. “Heemmm.. Baunya enak banget.. Masak apa hari ini?” Tanya Keizha.

Sayur asem sama tempe tahu.” jawab Andin sambil menuntun Keizha duduk di kursi meja makan.

Andin mengambilkan piring, nasi, serta lauk pauk untuk Keizha lalu menyuapinya.

Wahh.. Enak loh dek.. Kamu pasti bisa jadi koki!” puji Keizha.

Oh iya dik, Ayah mana?” Tanya Keizha.

Ayah sudah berangkat pagi-pagi tadi.” Jawab Andin sedih.

Kamu kenapa dek? Kok suaramu kayak ada masalah?” Tanya Keizha sambil memegang tangan Andin.

Nggak papa kok kak..” jawab Andin sambil tersenyum. “Maaf kak. Aku terpaksa bohong. Aku memang sengaja di suruh Ayah untuk tidak bilang ke kakak kalau aku belum membayar uang Sekolah 5 bulan. Ayah takut kakak ada pikiran.” Bisik Andin dalam hati.

Baiklah. Dek, besok kan hari minggu, ikut kakak ke Taman yuk..” ajak Keizha.

Ngapain kak..?” Tanya Andin.

Ya jalan-jalan aja. Kakak pingin keluar.”

Sejenak Andin merasa malas. Namun demi Kakaknya tersayang, Ia akan melakukan apapun untuk Kakaknya. “Iya kak. Ehm, kak, Andin sekolah dulu ya.. nanti Andin telat..” pamit Andin sambil mengambil tasnya.

Oh, iya.. hati-hati ya dek..”

Andin membuka pintu rumah dengan tergesa-gesa karena takut terlambat. “Daa kak..” Andin menutup pintu.


#


Andin berjalan menuju ruang kepala sekolah yang terletak bersebelahan dengan ruang guru. Entah ada apa, Kepala Sekolah memanggilnya.

Permisi Pak..” kata Andin pelan sambil membuka pintu ruang Kepala Sekolah.

Iya masuk. Duduk di sana” jawab Pak Alex, kepala sekolah Andin sambil menunjuk kursi di depan mejanya.

Pak Alex tampak sangat marah. “Andin, apa kamu sudah membayar 1 bulanpun pada minggu ini?” Tanya Pak Alex.

Be, belum Pak.. Tapi kata Ayah..”

Saya tidak butuh perkataan dari Ayah kamu! Ayah kamu dari dulu hanya bilang besok, besok, dan besok! Sebentar lagi kamu akan mengikuti ujian. Apa kamu mau tidak lulus?” Tanya Pak Alex.

Andin menggeleng. Hampir saja Andin menangis. Namun dia menahannya.

Lalu bagaimana sekarang?” Tanya pal Alex lagi.

Saya tidak tahu Pak..” bisik Andin.

Bilang sama Ayah kamu. Kalau minggu depan kamu tidak bisa melunasi semua tagihan dari sekolah, lebih baik jangan berharap bisa menyekolahkan anaknya!” seru pak Alex.

Andin sudah tidak dapat menahan air mata lagi. Dia mulai menangis.

Sekarang kamu pulang saja..!”

Tapi pak..” Andin menatap Pak alex.

Tapi apa?? percuma sekolah kalau tidak bisa membayar! Lebih baik kamu sekarang pulang! Cepat ambil barang-barang kamu..!” suruh pak Alex.

Andin keluar dari ruangan pak Alex dan berlari menuju kamar mandi. Dia menangis sejadi-jadinya. Pernah sekali seumur hidupnya, Dia menyesal menjadi orang miskin. Tetapi Kakaknya itu slalu mendukungnya.


#

Jam menunjukan baru pukul 9 saat Andin tiba di rumah. Wajahnya lesu. Dan matanya membengkak. “Adek pulang..!” seru Andin dan duduk di kursi meja makan.

Tidak lama kemudian terdengar langkah seseorang yang tergesah-gesah.

Keizha muncul dari balik pintu kamarnya. “Loh, dek? Kok udah pulang..?” Tanya Keizha.

Iya kak. Ada rapat.” Dusta Andin.

Oh.. Ayah juga sudah pulang. Kelihatannya Ayah sedang sakit.”

Andin mengerutkan kening. “Sakit? Sakit apa kak?”

Kakak nggak tahu. Mungkin Cuma masuk angin.” Jawab Keizha.

Andin menghelakan nafas panjang. Lalu Andin pun masuk ke kamar Ayahnya.

Yah..” panggil Andin. Ayah menoleh. Wajahnya terlihat pucat.

Namun Ayah tetap tersenyum. “Ada apa nak?” Tanya Ayah.

Awalnya Andin ingin bilang ke Ayahnya tentang tagihan sekolah, namun karena merasa keadaan Ayahnya kurang bagus, Andin memutuskan untuk mengurungkan niatnya.

Nggak papa. Ayah istirahat aja.” Kata Andin sambil keluar dari kamar Ayahnya.

Hati Andin seperti menangis. Ingin rasanya dia tidak sekolah untuk meringankan beban Ayahnya.

#

Krrriingg..!! Alarm di kamar Andin dan Keizha berbunyi.

Huaampp..” Andin bangun dari tempat tidur dengan mata setengah tertutup untuk mematikan alarm.

Kak..” panggil Andin pada Keizha yang masih tidur di sampingnya.

Hump??”

Dengan malas, Andin bangun dari tempat tidurnya. “Katanya mau jalan-jalan ke taman.. ni udah jam 5..” ujar Andin.

Iya.. Kamu mandi duluan, ntar kakak baru mandi..” kata Keizha.

Hu’umb kak..” Andin segera berjalan ke kamar mandi yang terletak di sebelah kamarnya dan bergegas mandi.


#


Dek, disini kayaknya rame banget ya??” Tanya Keizha.

Iya kak.. kan sekarang hari minggu..” jawab Andin sambil terus menuntun Kakaknya itu.

Keizha ingin sekali melihat pemandangan ini. Dimana banyak orang berkumpul. Entah dengan keluarga, teman, ataupun pacar. Keizha memang belum mempunyai pacar. Tepatnya belum pernah.

Kak, tunggu di sini ya.. aku mau beli es dulu..” kata Andin. Keizha hanya mengangguk. Andin pun menuntun Andin untuk duduk di bangku yang ada di pinggir kolam ikan.

Cukup lama Keizha menunggu. Sekitar 15 menit. Namun Andin tidak juga kembali.

Andin kemana ya?” Tanya Keizha dalam hati.

Karena sudah 30 menit lebih Keizha menunggu, dia memutuskan untuk berdiri dengan tongkatnya dan mencari Andin dengan memanggil-manggil nama Andin.

Auuww..” Keizha terjatuh saat kakinya tersandung batu.

Namun tangan seseorang yang lembut menangkapnya dari belakang.

So, sori..” ujar Keizha.

Iya nggak ap..” laki-laki itu terdiam ketika melihat Keizha berusaha berdiri namun sedikit kesulitan.

Angga membantu Keizha bangun. “Kamu..?” Tanya laki-laki.

Keizha hanya diam tanpa jawaban. Namun Laki-laki itu tahu apa yang sedang Keizha alami. Laki-laki itu menuntun Keizha duduk di bangku dekat mereka.

Nama kamu sapa?” Tanya laki-laki itu.

Keizha.”

Aku Angga.”

Mereka berdua terdiam.

Laki-laki yang bernama Angga itu menatap dalam Keizha.

Kak!” panggil Andin. Andin segera berlari menghampiri Keizha.

Andin mengatur nafasnya agar kembali normal karena sudah berlari-lari mencari Keizha.

Kak, maaf ya, tadi aku nyasar waktu nyari Kakak..” kata Andin.

Iya, nggak apa. kamu nggak papa kan?” Tanya Keizha.

Nggak papa kok.. Eh, ini siapa Kak?” Tanya Andin sambil melihat Angga.

Eh, kenalin, aku Angga.” Angga mengulurkan tangan pada Andin.

Dengan sedikit malu Andin membalas uluran tangannya. “Andin..”

Pulang yuk kak..” ajak Andin.

Iya.. Emmm, sori, aku pulang dulu ya..” pamit Keizha pada Angga.

Eh, aku kesini tadi bawa mobil, mau aku anterin..?” Tanya Angga.

Nggak usah.. rumah kita deket kok..” jawab Keizha.

Iya kak, mau!” seru Andin pada Angga. Angga Hanya tersenyum.

Andin!”

Tenang.. aku bukan orang jahat kok.” Kata Angga.

Keizha merasa malu. “Bu, bukan gitu, kami nggak mau ngerepotin..”

Udahlah.. yuk!!”


“Aku di sini baru 2 minggu. Aku pindahan dari Bandung. Umur aku 18. Di sini aku belum punya temen. Jadi aku harap kamu mau jadi temen aku.” Jelas Angga saat mereka sampai di rumah.

Keizha hanya terdiam.

Kamu.. Buta sejak kapan?” Tanya Angga.

Sejak Kecil..” jawab Keizha.

Ooh.. sorry..”

Tak lama kemudian, Ayah Keizha keluar dari kamar.

Keizha.. eh, anda.. siapa?” Tanya Ayah dari belakang Angga.

Ini temen Keizha Yah..” jawab Keizha.

Angga bangkit berdiri, menyalami Ayah Keizha. “Saya Angga Om..” ujar Angga.

Hhm.. Zha, adik kamu mana?” Tanya Ayah.

Andin tadi pamitan mau keluar..” jawab Keizha.

Ya sudah, Ayah mau kerja dulu.. nanti kalau Ayah ketemu Andin, Ayah suruh pulang..”

Ta, tapi Yah.. Ayah kan masih sakit..” kata Andin sambil bangkit berdiri dari kursinya dan meraba-raba mencari Ayahnya.

Sudahlah.. Ayah ingin bekerja. Ayah malas kalau di suruh diam di rumah.. Nak Angga, tolong jaga Keizha sampai adiknya pulang..” kata Ayah kepada Angga sambil tersenyum.

Iya Om..” jawab Angga.

Ayah pergi dulu nak..” Ayah mencium kening Keizha lalu berangkat kerja naik sepedanya.

Kamu kenapa nggak operasi..?” Tanya Angga sesudah membantu Keizha duduk kembali.

Nggak..” jawab Keizha, singkat.

Kenapa? Bukannya banyak yang ingin memberikan donor mata? Seperti bekas orang yang meninggal? Atau orang yang membutuhkan uang?”

Bukan masalah donornya, tapi masalah ekonomi. Untuk makan saja susah, apalagi operasi. Operasi membutuhkan biaya yang besar. Aku tidak mau merepotkan Ayah.”

Lalu Ibu kamu kerja apa?” Tanya Angga.

Ibuku meninggalkan Ayah dan menikah dengan orang lain sejak Andin lahir.” Jawab Keizha.

Dulu Andin sempat mau di ajak oleh Ibu untuk ikut dengannya, namun Ayah tidak memperbolehkannya.” Tambah Keizha.

Kasian sekali ya Andin.. tidak dapat kasih sayang oleh seorang Ibu.”

Kalau Orang tuamu sendiri kerja apa?” Tanya Keizha.

Ayahku direktur di salah satu perusahaan ternama di Jakarta. Ayah sangat baik. Dia mampu mengerti keadaan keluarga. Apalagi waktu Ibu dan adikku masih ada.”

Masih ada?” ulang Keizha.

Ibu da n Adikku meninggal karena kecelakaan hebat saat aku berumur 3 tahun dan Ayah menjadi down. Semua pekerjaan Ayah gagal. Semua kekayaan Ayah habis. Ayah menjadi sensitif. Dia pemarah. Dia pemabuk. Dan setahun kemudian Ayah menikah dengan Seorang perempuan yang berusaha mengganti posisi Mama. Bahkan sekarang Ayah sudah hampir tidak memperdulikan aku lagi. Lalu aku di bawa oleh tanteku di Australia untuk disekolahkan disana. Namun 3 bulan yang lalu tanteku meninggal dunia. Maka dari itu aku pulang ke sini.” Jelas Angga.

Keizha terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa.

Angga menatap mata Keizha yang terlihat kosong. Ia meneliti wajah Keizha. Lalu ia tersenyum sendiri. “Oke, aku pulang dulu ya..” Pamit Angga.

“Apa itu?” Tanya Keizha tiba-tiba, saat mendengar suara tangisan. Angga melihat keluar. Ternyata ada Andin yang sedang menangis.

Kamu kenapa?” Tanya Angga pada Andin.

Aku.. aku habis di ejek sama teman-teman.. katanya aku nggak bisa sekolah..” Jawab Andin sambil terisak.

Kok mereka bisa ngejek kamu kayak gitu?” Tanya Angga.

A, aku memang belum membayar uang sekolah..” tangisan Andin semakin menjadi.

Ke, kenapa kamu tidak bilang sama kakak?” Tanya Keizha yang keluar menghampiri Andin dengan berpegangan pada pintu.

Kata Ayah aku nggak boleh bilang sama kakak. Ayah nggak mau bikin kakak bingung dan banyak pikiran.” Jawab Andin.

Tapi kenapa Ayah bilang seperti itu?”

Andin hanya terisak-isak.

Andin, memang kamu belum bayar berapa bulan?” Tanya Angga sambil mengusap air mata Andin.

5 bulan..” jawab Andin.

Sebanyak itu?? Kenapa kamu nggak bilang ke kakak? Kan kakak bisa pinjem uang ke tetangga.” Ujar Keizha.

Dia nggak mau bilang ke kamu karna dia takut kamu banyak pikiran Keiz..” kata Angga.

Ya udah, nanti kamu bilang aja ke Ayah kamu.” Tambah Angga pada Andin.

Iya. Eh, kak.. hidung kak Angga berdarah.” Ujar Andin yang sudah bisa mengontrol isak tangisnya.

Angga segera mengambil sapu tangan yang ada di sakunya dan mengusapnya. Ini bukan pertama kalinya hidung Angga berdarah. Sudah hampir 2 tahun hidung Angga mengeluarkan darah. Bahkan kadang juga Angga merasakan pusing yang amat sangat sakit di kepalanya.

udah kan??” Tanya Angga sambil mengedipkan sebelah matanya.

Andin mengangguk lalu masuk ke kamarnya.

Kamu tidak papa kan?” Tanya Keizha sambil meraba-raba wajah Angga.

Iya. Aku nggak papa.”

Keizha menghela nafas panjang.

#


Kini Keizha dan Angga sering bertemu dan mereka menjadi teman baik. Hampir setiap hari Angga bertamu di rumah Keizha. Entah perasaan apa yang merasuki Angga. Dia hanya selalu ingin berada di dekatnya. Atau dia hanya Iba dengan keadaan Keizha.


Pagi-pagi sekali Angga mengajak Keizha ke pantai yang sangat indah. Terlihat banyak orang yang sedang bercanda ria bersama dengan keluarga, teman, juga kekasih. Angga mengajaknya di tepi pantai. Keizha kaget dan terjatuh saat dia terkena air pantai yang dingin.

Angga tertawa saat melihat raut wajah Keizha yang ketakutan. Sejenak, Angga merasa bahagia.

“Eiitz.. Gerimis yah?” Tanya Keizha. Angga berhenti berjalan dan mengangkat tanganya. Dan memang setetes air jatuh dari atas langit. Angga akhirnya mengajak Keizha makan di warung dekat pantai dan menunggu sampai hujan berhenti.

Setelah puas bermain di pantai Angga mengajak Keizha ke Taman Angsa. Angga membawa Camera Digitalnya dan memfoto apapun yang dilihatnya. Namun Angga merasa banyak foto Keizha di dalam Cameranya.

Keizha sangat bahagia. Baru pertama ini Keizha keluar bersama seorang cowok. Dia merasa bahwa ‘mempunyai teman’. Karena sudah lama dia tidak mempunyai teman cowok untuk bisa diajak mengobrol.

Jam menunjukkan pukul 16.30. Lalu Angga mengajak Keizha ke Ayunan yang ada di dekat mereka. Angga menyuruh Keizha untuk duduk di ayunan tersebut. Dan Angga mendorong ayunan tersebut pelan-pelan.

Ngga..” panggil Keizha.

Iya?”

Aku ingin bisa melihat wajah kamu saat tertawa. Sedetik sekalipun.” Ujar Keizha. Tanpa terasa, air mata terjatuh ke pipi Keizha yang lembut. Angga bingung harus bicara apa. Dia hanya mengusap air mata Keizha. “Aku yakin, suatu saat nanti kamu bakal bisa melihat aku. Kapan harinya, hanya Tuhan yang tahu.”

Tapi.. Aku takut..”

Aku janji nggak akan pergi dari sisi kamu.” Angga menarik tangan Keizha dan membenamkan Keizha ke pelukannya.

Zha.. Aku ingin menjadi Cahaya.”

Kenapa?” Tanya Keizha.

Kamu tau nggak.. Cahaya itu dapat menyinari apapun dalam kegelapan. Seperti Bintang. Aku ingin sekali menyinari kegelapanmu..”

Angga mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kalung berbentuk Bulan di dalam Bintang, dan memasangkannya ke leher Keizha.

“A, apa ini?” Tanya Keizha sambil memegangnya.

“Ini kalung inisial kita. Zha, mulai sekarang aku akan menjadi Bintang, dan kamu akan menjadi Bulan. Aku juga memiliki kalung yang hampir sama dengan punyamu. Jika kalung ini kita pakai sampai selamanya, kita akan selalu bersama juga selamanya.” Jelas Angga.

Angga ingin berada di sini lebih lama. Dia juga takut bila ini pertemuan mereka yang terakhir. Namun kepala Angga mendadak pusing. Dan dari hidung Angga keluar setetes darah.

Zha.. sekarang udah sore. Mendung lagi juga. Kita pulang yuk?” ajak Angga.

Iya..”


“Hati-hati ya..” bisik Keizha kepada Angga saat Angga naik mobilnya, hendak pulang. Angga mengangguk mantap. Lalu pergi. Angga lupa melambai. Bahkan lupa berpamitan.


Sesampainya di rumah, hanya satu yang Angga inginkan. Berbaring di tempat tidur.

Sore Pa, Ma..” sapa Angga kepada kedua orang tuanya yang duduk di sofa sambil menonton TV. Dan mengecup dahi Mamanya.

Sore juga sayang.. Eh?? Hidung kamu berdarah lagi?” Tanya Mama Angga saat menyadari ada sisa darah di bawah hidung anak tirinya.

Eh.. Nggak papa kok Ma..” ujar Angga sambil naik hendak ke kamar.

Ngga, kamu ini udah di bilangi ama Papa dan Mama, apa salahnya jika kamu periksakan ke Dokter pribadi kita tentang penyakit kamu??” Papa Angga berdiri dan berjalan ke arahnya.

Aku tidak apa-apa Pa..” Angga berjalan lagi dan belum sempat dia membuka pintu kamarnya, kepalanya pusing lagi. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya, namun semuanya menjadi bayangan. Dia terjatuh. Dan terakhir yang dia dengar adalah teriakan Mamanya.


#


Angga melihat sekelilingnya. Mata Angga hanya terbuka separo karna silau terkena cahaya. Saat dia mengamati lebih lagi di mana dia berada, dia sadar bahwa dia sedang di rumah sakit. Dia memandangi Kardiolog di sampingnya.

Sayang..” panggil Mama tiri Angga.

Angga sakit apa Ma?” Tanya Angga.

Mama Angga hanya menggeleng lalu menangis. Papa Angga yang berada di sisi kanan Mama Angga itupun memeluk bahu istrinya.

Ma?” panggil Angga lagi.

Tidak apa Nak..” Jawab Papa Angga.

Papa Angga tersenyum. Namun Angga merasa ada kejanggalan. Dia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan dari orang tuanya. Ingin dia menanyai lebih lanjut, namun kepalanya pusing kembali. Dia merasa lemah dan mudah rapuh. Dia memegang kepalanya.

“Kamu tidak pa-pa Ngga?” Tanya Papa Angga yang melihat perubahan ekspresi wajah Angga yang menunjukkan rasa kesakitan.

“Pu, pusing Pa..” Jawab Angga terus memegang kepalanya. Lalu Papa dan Mama Angga memanggil Dokter. Sekelilingnya menjadi kabur lagi. Lalu Dokter yang berperawakkan tinggi juga kurus datang dengan Suster di belakangnya. Dokter menyuruh Angga meminum obat kapsul namun sulit bagi Angga untuk menelannya. Tak lama kemudian setelah berhasil menelannnya, Angga merasa mengantuk lalu tertidur.


Saat Angga terbangun, dia hanya melihat Dokter yang sedang menata obat di meja kecil samping tempat tidur Angga.

“Dok, orang tua saya di mana?” Tanya Angga sedikit lemas.

“Oh, Papa dan Mama kamu pulang untuk mengambil barang mereka yang tertinggal.” Jawab Dokter dengan ramah.

Angga terdiam.

“Ada yang kamu butuhkan?” Tanya Dokter. Angga menggeleng.

“Baiklah, saya kembali ke ruangan saya dulu. Jika ada yang kamu butuhkan, tekan saja Bel disamping kamu itu dan Suster akan segera datang.” Jelas Dokter sambil berjalan ke arah pintu.

“Dok..” panggil Angga.

“Ya?” Dokter berbalik menatap Angga.

“Saya sakit apa Dok?” Tanya Angga takut-takut sambil mencoba duduk.

“Apa orang tua kamu tidak memberi tahu?” Tanya Dokter. Angga menggeleng lagi.

Dokter tersenyum lalu menghampiri dan duduk di samping Angga. “Ini mungkin bukan hak saya untuk memberitahu kamu. Tapi memang kamu harus tahu.”

“Apakah, penyakit saya begitu buruk?”

Senyum dari wajah Dokter menghilang perlahan.

“Dok?” Panggil Angga.

“Nanti saya coba membujuk orang tua kamu untuk bicara tentang penyakit kamu yang sebenarnya.” Kata Dokter. Angga diam sejenak kemudian mengangguk. Dokter memegang pundak Angga lalu pergi begitu saja.

Tidak lama setelah Dokter keluar, Mama dan Papa Angga membuka pintu. Angga berbalik dan berpura-pura tidur. Mama mencium dahinya dan mengusap-usap rambutnya.

Ma..” panggil Papa Angga. Mama Angga menoleh dengan air mata hampir menetes.

Memang dia bukan anak kandungku, tapi aku tidak bisa melihat dia tersiksa karena penyakitnya..” ujar Mama sambil mengusap rambut Angga lagi. Angga merasa wanita yang kini menjadi pengganti Ibunya itu begitu sayang padanya. Sesungguhnya dia tidak mempunyai niat untuk mendengar pembicaraan mereka, namun dia ingin tahu tentang penyakitnya.

Ma, sesungguhnya kita harus memeberi tahu penyakit dia yang sebenarnya.” Kata Papa Angga.

Tidak Pa! Dia tidak boleh tahu penakitnya. Dia akan semakin tersiksa!” Seru Mama Angga sambil berbalik menghadap suaminya.

Ma, Dokter tadi juga sudah bicara bahwa Angga harus tahu penyakitnya! Dia harus tahu Ma..”

Tapi jika dia tahu bahwa, bahwa dia sakit kangker otak stadium akhir, dia akan semakin menderita..”

Mendengar kata “Kangker otak stadium akhir” Angga terkejut dan segera membuka matanya.

“Ka, Kangker?” Ulang Angga. Mama dan Papa Angga terkejut melihat bahwa anaknya sedari tadi mendengar pembicaraan mereka.

“A, Angga, ini tidak seperti yang kamu dengar.. ini..” Mama mencoba menjelaskan kepada Angga. Angga menggeleng.

“Aku sudah yakin dengan apa yang sudah aku dengar dengan telingaku sendiri..” Jawab Angga. Mama Angga menangis memeluk Angga.

Angga merasa bahwa kini dirinya sudah tidak berarti. Untuk melindungi seorang gadis saja, dia tak akan mampu. Bahkan dia akan kehilangan gadis itu, juga semuanya!


#


14 hari sudah berlalu. Kegelisahan mendatangi Keizha. Dia belum juga bertemu Angga. Setiap pagi dia menunggu di luar. Keizha rindu pada Angga. Keizha takut kehilangan Angga. Keizha takut Angga melupakannya. Keizha mendadak mogok makan. Dia merasa kehilangan

#


TOK.. TOK.. TOk..

Sudah sekitar 2 menit Angga menunggu di depan pintu rumah Keizha sambil mengetuknya. Namun tidak ada yang membukanya.

Kak!” panggil seseorang dari belakang Angga. Angga menoleh dan melihat Andin yang berlari ke arahnya. Di belakang Andin, Angga melihat Keizha berjalan di samping Ayahnya. Andin mendadak berhenti. Dia berdiri dalam jarak 1 meter dari Angga. “Ke, kenapa Kak Angga pucat sekali?” Tanya Andin dalam hati.

Hay gadis kecil..” sapa Angga sambil tersenyum ramah. Lalu menoleh ke arah Ayah Keizha dan tersenyum kembali.

Nak Angga kok..??”

Angga menaruh telunjuknya di depan bibirnya yang pucat. “Ssstt..”

Hay Keiz..” sapa Angga pada Keizha.

Kamu.. Kenapa lama nggak ke sini?” Tanya Keizha.

Aku ada masalah di kerjaan..” jawab Angga, berbohong.

Oh.. Eh, aku ke dalem dulu.” Kata Keizha.

Iya..”

Keizha masuk ke dalam sambil di gandeng Andin.

Mari nak Angga.. Silahkan duduk.” Kata Ayah Keizha sambil menunjuk kursi kayu. Angga tersenyum lalu duduk di kursi yang di tunjuk Ayah Keizha.

Habis dari mana Om?” Tanya Angga.

Jalan-jalan.” Jawab Ayah Keizha. Angga hanya mengangguk.

Kamu.. Kenapa kok pucat sekali nak Angga?” Tanya Ayah Keizha heran.

Saya memang sakit. Namun hanya sementara..” sudah 2 kali Angga berbohong tentang keadaannya.

Om, apa nggak ada donor mata buat Keizha?”

Dulu ada. Namun sekarang tidak ada. Maklum nak Angga, kami tidak mampu. Untuk membayar sekolah Andin saja sudah susah..” jelas Ayah Keizha.

Oh.. Gini Om, teman saya adalah Dokter mata. Dia teman baik saya. Kalau Om mau, saya bisa membantu Keizha untuk mendapatkan donor mata dengan hanya sedikit biaya.”

Ayah Keizha mengerutkan keningnya. “Kamu tidak bercanda kan?”

Angga menggeleng lalu tersenyum. “Tentu saja saya serius.” Jawab Angga.

Tapi.. Saya..”

Saya yang akan membayar semua biaya. Saya ikhlas Om.. Karena saya mencintai Keizha..”


Angga bahagia ketika melihat senyum Keizha saat di beri tahu tentang kabar gembira ini. Tak lupa dia terus berterima kasih pada Angga.

Sebentar, saya mau telpon teman Dokter saya dulu..” kata Angga. Lalu Angga keluar dan menelepon temannya itu. Tampak raut muka kecewa di wajah Angga saat Angga kembali. Namun sebisa mungkin dia merubahnya menjadi senyuman saat dia bilang bahwa operasinya akan berjalan bulan depan. Keizha langsung memeluk Angga. Dia menangis di bahu Angga. Meluapkan segala rasa bahagianya. Walau Keizha takut, namun dia percaya bahwa semua akan di lewati karna Angga ada di sampingnya.


#


Ma, Pa, Angga mau ngomong.” Kata Angga saat Ia baru sampai di rumah.

Ada apa sayang?” Tanya Mama Angga.

Angga sejenak menutup matanya dan menghirup nafas panjang.

“Ma, Pa, kalau anak kalian ini melakukan suatu perbuatan baik, apa kalian akan setuju?” Tanya Angga sedikit takut.

Tentu sayang, kalau bisa, buat dia bahagia.” Jawab Papa Angga sambil tersenyum.

Tapi, apa Papa dan Mama akan setuju kalau aku..” Angga sengaja berhenti bicara.

“Ada apa sih? Kok serius banget?” Tanya Mama Angga. Angga menarik nafas dalam lagi.

Angga mau donorin mata Angga buatseseorang.” Angga memberanikan diri untuk mengucapkannya. Papa dan Mama terkejut.

“Angga, apa yang kamu pikirkan?” Tanya Papa Angga sedikit emosi.

“Pa, aku pengen buat orang yang aku cintai bahagia. Keizha cinta pertamaku. Aku pernah berjanji untuk selalu ada di sampingnya, namun nyatanya aku tidak akan bisa! Hanya ini yang bisa aku lakukan.” Jelas Angga.

Telapak tangan Papa Angga sudah terangkat keatas hendak menampar Pipi Angga namun segera berhenti ketika Mama Angga menahannya.

“Papa!” teriak Mama Angga.

“Apa kamu pikir mata kamu tidak berharaga? Apa kamu pikir mata kamu bisa di beli dengan uang??!” Tanya Papa Angga.

“Tampar Pa! Tamparlah aku! Aku hanya ingin menepati janjiku. Janjiku yang takkan pernah bisa ku penuhi.” Ujar Angga. Angga kemudian berlutut di depan kaki Papanya yang telah menjadi sosok terbaik dalam hidupnya, yang dia jadikan motivasi untuk memberinya semangat maju.

“Setidaknya ini bukti cintaku padanya.” Tambah Angga.

Papa Angga sedikit luluh. Dia duduk di kursi di belakangnya. Dia menenangkan diri di samping istrinya.

“Pa.. Mungkin sekarang hidup Angga tak lama. Angga tidak akan bisa bahagia. Namun Angga senang jika Keizha bahagia.” Kata Angga lembut.

Papa Angga tetap terdiam. Dia memalingkan mukanya menghadap ke jendela.

“Keizha.. Perempuan seperti apa dia yang sangat kamu cintai dan rela kau memberikan matamu untuknya??” Tanya Papa Angga.

Angga tersenyum. Dia mengingat-ingat kembali kisahnya dengan Keizha.

“Anak yang baik, lucu, dan sangat sopan. Dia mampu selalu membuat aku tersenyum saat dekat denganya walau dia tidak melakukan apapun. Dia sangat berharga Pa..” Angga memegang tangan Papanya. Berusaha meyakinkan bahwa Keizha adalah perempuan terbaik yang pernah Ia temui.

“Seminggu sebelum waktu yang telah di tentukan oleh Dokter tentang perkiraan kematianku, aku akan menyerahkan mataku ini sebagai donor sukarelawan untuknya. Aku mohon Papa setuju karena ini permintaan terakhirku. Meskipun bila nanti akhirnya aku bisa selamat dari maut, aku tetap akan mendonorkan mataku. Agar dapat menjadi cahaya yang selalu menerangi kegelapannya.” Ujar Angga. Papa Angga menatap lalu memeluknya di susul juga dengan pelukan Istrinya.

#


1 BULAN KEMUDIAN

Keadaan Angga semakin memburuk. Pandangannya semakin memburam. Namun dia tetap setia untuk mengantar Keizha operasi. Dia ingin Keizha mendapatkan semua impiannya. Dia ingin Keizha mendapatkan ‘cahaya’.


“Ngga.. kamu bakal tetap ada disini kan?” Tanya Keizha saat Keizha akan memasuki ruang operasi.

Iya. Aku akan slalu menemani kamu. Bahkan aku yang akan pertama kali kamu lihat saat kamu membuka mata.” Ujar Angga. Keizha hanya tersenyum. Lalu Keizha masuk ke ruang operasi di temani degan Ayahnya.

Loe bener mau melakukan semua ini?” Tanya Ivan. Teman Dokternya sambil memakai sarung tangannya.

Angga mengangguk mantap. “Hidupku nggak lama. Setidaknya aku mau membuat Keizha bahagia.” Jawab Angga.

Gue bangga ama loe, Ngga!” Ivan memeluk temannya itu.

Sebelumnya gue mau bilang trimakasih ke elo!” ujar Angga. “Tapi Van, gue mohon, jika Keizha membuka matanya, dan nyari gue, tolong loe jawab kalau gue telah berkhianat. kalo gue udah punya tunangan. Tapi, loe bilang ke keluarga Keizha yang sesungguhnya. Dan ini semua harus di rahasiakan dari Keizha.”

Ta, tapi..”

Plis Van.. Gue nggak mau Keizha tahu yang sebenarnya.”

Ivan memeluk Angga lagi. Lalu tersenyum dan menganggguk.


#


Operasi Keizha memakan waktu 2 jam. Namun saat operasi selesai, Keizha masih tak sadarkan diri. Hampir 2 hari Keizha berbaring di tempat tidur rumah sakit. Di tunggu dengan Andin dan Ayahnya.

Yah..” panggil Keizha tiba-tiba. Ayah Keizha dan Andin yang duduk di sampingnya terkejut dan menatap putrinya yang masih memejamkan mata.

Dok! Dokter!” teriak Ayah Keizha.

Beberapa detik kemudian, Suster dan Dokter Ivan membuka pintu kamar Keizha.

Dok.. Keizha sudah sadar..” kata Ayah Keizha senang.

Kak..” panggil Andin.

Keizha, buka mata kamu pelan-pelan..” kata Dokter Ivan.

Keizha membuka matanya perlahan seperti intruksi dari Dokter Ivan. “sakit Dok..”

Iya.. memang begini. Ini karna kamu belum terbiasa kena cahaya.”

Keizha mengerjap-ngerjapkan matanya. Lalu dia bisa melihat hanya bayangan, kemudian sedikit buram. Dia mengerjapkan matanya lagi. Dan kini dia mampu melihat semuanya. Melihat sekelilingnya. Meski masih terasa sakit.

A..yah.. Andin..” panggil Keizha sambil menatap keluarganya itu. Ayah Keizha dan Andin memeluknya.

Selamat..” kata Dokter Ivan sambil tersenyum ke Ayah Keizha. Mereka segera berterimakasih kepada Dokter Ivan.

Keizha sangat bahagia. Akhirnya dia mendapatkan yang dia mau. “Yah.. Angga mana?” Tanya Keizha tidak sabar. Semua senyum yang tadinya merekah di semua wajah, kini hilang. Semuanya terdiam. Dokter Ivan tidak bisa menjelaskannya. Dia merasa kasihan bila harus melihat hilangnya kebahagiaan di wajah Keizha. Namun dia memang harus menjelaskannya. Sesuai sumpahnya kepada Angga.

Lalu Dokter Ivan pun menceritakan semua cerita yang sudah di karang oleh Angga.

Nggak mungkin.. ini semua nggak mungkin! Yah.. ini semua Cuma gurauan kan? Angga ada di sini kan?” Tanya Keizha. Ayah Keizha menggeleng dan memeluk Andin yang menangis di sisinya.

Dok, di mana Angga sekarang? Apa Angga bersembunyi agar dia bisa memberikan kejutan padaku??” Dokter Ivan merasa iba saat melihat Keizha yang tidak mempercayainya.

Keizha.. kamu harus bisa menerima kenyataan!”kata Ayah Keizha.

Ini semua bohong!” seru Keizha.

Kak..” Andin menatap kakaknya yang meneteskan air matanya.

Andin.. di mana Angga sekarang?” namun Andin hanya menangis.Dokter Ivan mengeluarkan surat dari sakunya dan memberikannya pada Keizha. Keizha membaca isi surat itu.




Zha..

Maafkan aku.

Aku tidak bisa menepati janjiku.

Aku tidak ada di depan kamu saat kamu bisa melihat.

Bukan aku tidak mau.

Aku hanya tidak bisa.

Semoga kamu mengerti apa maksudku.


Angga.


Keizha meremas surat kecil itu lalu melemparnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Dia menyesal mau menerima bantuan ini. Karna bagi dia, semua kehidupannya tetap menjadi gelap jika Angga tidak ada di sisinya.

#



1 minggu kemudian

Keizha memutuskan untuk melupakan semua tentang Angga. Dia menganggap Angga tak lebih dari seorang penghianat. Hari ini semua kenangan ingin Keizha lupakan. Semuanya. Tentang Angga, dan tentang perasaan konyolnya. Keizha dan Andin jalan-jalan ke Taman dekat rumahnya. Dia ingin membiasakan matanya.

Disinikah pertemuan pertamaku dengan Angga?” Tanya Keizha dalam hati sambil memerhatikan keadaan Taman. Andin yang seperti tahu pikiran Kakaknya itu, menggenggam tangan Keizha erat-erat.

Ndin!!” panggil seseorang. Keizha dan Andin meoleh ke asal suara itu. Ternyata Intan, teman Andin yang memanggilnya.

Kak, aku ke temen Andin dulu ya..” kata Andin. Keizha hanya mengangguk. Lalu Andin berlari ke arah temannya dan berbincang-bincang dengannya.

Keizha menatap sekitarnya. Namun pandangannya jatuh pada seorang lelaki gundul memakai kacamata hitam dan sedang duduk sendiri dengan anjingnya di salah satu tempat duduk Taman. Keizha mengamatinya. Keizha ingin mendekatinya. Karna Keizha merasa kenal dengannya.

Kak! Yuk jalan-jalan lagi!” seru Andin dari belakang.

I, iya..” merekapun kembali berjalan. Sejenak Keizha biarkan dirinya menoleh dan Laki-Laki itu tetap duduk di sana



2 BULAN KEMUDIAN

Kak.. Di cari ama orang.” Kata Andin sambil menggoyang-goyangkan tubuh Keizha yang berbaring di tempat tidur.

Siapa?” Tanya Keizha sambil mengusap-usap matanya.

Nggak tau.. cewek ama cowok. Kayaknya umurnya udah 30an gitu. Kelihatannya juga orang kaya. Di depan juga ada mobil warna item.” Jawab Andin. Keizha mengerutkan keningnya lalu turun dari tempat tidur dan segera menemui tamunya itu.

Betul saja, dari penampilannya sangat menunjukkan bahwa mereka adalah orang kaya.

Maaf.. Anda siapa?” Tanya Keizha mencoba sopan. Meskipun Keizha sekolah hanya sebentar, dia tetap di ajarkan sopan santun dan etika oleh Ayahnya.

Kamu Keizha?” Tanya balik si perempuan.

I, iya.. Anda??”

Boleh saya masuk?” Keizha beru sadar bahwa dia belum menyuruh mereka masuk dan duduk.

Silahkan..” jawab Keizha. Mereka semua masuk dan duduk di kursi di ruang tamu.

Kami orang tua dari Angga.” Mendengar kata Angga, Keizha sedikit terkejut.

Kami ingin memberitahukan sesuatu. Angga sudah tidak ada. Dia sudah tenang di alam sana.”

Maksud anda?” Tanya Keizha bingung.

Apakah kamu tidak tahu tentang penyakit Angga?” Tanya Mama Angga. Keizha menggeleng.

Angga menderita Kanker otak. Apa kamu juga tidak tahu siapa yang memberi kamu mata itu?” Tanya Mama Keizha lagi.

Memangnya dari siapa?” Tanya Keizha lebih bingung.

Saat Mama Angga akan menjawabnya, Papa Angga memegang tangan isterinya itu.

Ingat kata Angga Ma. Biarkan dia sendiri yang tahu.” Kata Papa Angga dan Ia menyerahkan sebuah amplop berwarna merah muda kepada Keizha.

Apa ini?” Tanya Keizha.

Dari Angga.” Kata Mama Angga sambil tersenyum ramah.

Keizha membukanya. Dan ternyata isinya adalah secarik kertas dan beberapa lembar foto.







Keiz..

Aku pernah berkata bahwa aku ingin menjadi penerang kegelapanmu.

Yah. Dan sekarang tataplah ke kaca. Kamu akan melihat bintang di matamu.

Kamu adalah bulanku.

Dan aku adalah bintangmu. Yang senantiasa menerangimu.

Maafkan aku yang telah berbohong. Sebenarnya aku sakit kangker otak.

Dan dengan sengaja aku menyuruh Dokter Ivan untuk berbohong bahwa aku sudah punya tunangan.

Karena aku tidak bisa melihat senyuman bahagiamu hilang saat kamu tahu penyakitku.

Satu lagi Zha, MATAMU ADALAH MATAKU.

Simpanlah foto ini sebagai kenangan kita.

Kita adalah Bulan dan Bintang. Meski tahu bahwa kita takkan bisa bersama, mereka tetap setia untuk menerangi dunia dari gelapnya malam.”


BULAN.

Setetes air mata jatuh ke pipi Keizha saat Dia melipat kembali suratnya. Keizha lalu menatap foto-foto Angga. Foto-foto itu mampu membangkitkan semua kenangan yang telah Keizha kubur. Foto saat dia sedang ke Taman Angsa. Senyum Angga adalah sesuatu yang sangat ingin Keizha lihat. Air mata jatuh semakin deras saat dia melihat sesuatu terselip di dalam surat. Dia melihat kalung yang berkilauan. Mirip dengan kalung yang dia pakai. Bulan di dalam Bintang.

Tapi.. Maksud dari, ‘MATAMU ADALAH MATAKU’?” Tanya Keizha pada orang tua Angga.

Kak Angga mendonorkan matanya untuk kamu Kak.” Jawab Andin sambil terisak dari belakang Keizha.

A, andin??”

Kak, selama ini Kak Angga tuh baik banget. Dia yang menebus sekolah Andin!” seru Andin.

Tapi kamu tidak boleh asal bicara tentang donor mata ini.” Ujar Keizha.

Nak, apa yang dikatakannya, itu semua benar. Angga yang mendonorkan matanya untukmu.” Tambah Papa Angga.

Keizha sangat terkejut. Keizha teringat oleh laki-laki gundul yang kemarin dilihatnya ditaman. “Apa itu, Angga??” tanyanya dalam hati.

Namun belum sempat pertanyaan itu terjawab, semua menjadi kabur. Keizha terjatuh. Lalu tidak sadarkan diri. Hanya teriakan dari Andin yang terakhir dia dengar.

#


Keizha berjongkok di samping kanan tanah yang menyimpan jasad Angga. Sudah hampir 15 menit Keizha menatap kuburan Angga.

Ngga.. thanks ya buat mata ini. Ini akan menjadi permata yang akan kupertaruhkan dengan nyawaku.” Bisik Keizha sambil memegang batu nisan yang bertulisan nama lengkap Angga.

Keizha tersenyum. Meski dia mengikhlaskan Angga, namun dia tetap menginginkan bahwa ini semua adalah mimpi. Dia ingin terbangun dari mimpi ini dan dapat merasakan kehangatan yang terpancar dari Angga. Meski dia takkan pernah bisa melihat.

Namun tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang pundaknya. Keizha menoleh dan mendapati Papa Mama Angga, Andiin, dan juga Ayahnya yang berdiri di belakangnya.

Keizha.. Kami juga merasa kehilangan. Sama seperti kamu.” Kata Mama Keizha sambil tersenyum.

Iya Keizha. Namun kita semua sudah merelakannya.” Tambah Papa Angga. Air mata menetes dari mata Andin.

Rumah kami cukup besar. Di sana hanya akan ada Saya, Istri saya, dan pembantu. Akan terasa sepi tanpa kehadiran seorang anak.” Papa Angga tersenyum sangat lembut.

Saya ingin mengangkat kamu dan Andin, sebagai anak kami. Apa kamu mau?” Tanya Papa Angga.

Andin dan Keizha terkejut. Mereka menoleh kearah Ayahnya. Ayah mereka hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.

“Saya sudah bicara kepada Ayah kamu. Dan dia mengijinkan jika kamu mau. Jika kamu tidak mau, kami tidak memaksa.”

Ikutlah Nak..” kata Ayah Keizha.

Keizha dan Andin mengangguk bersamaan lalu memeluk Ayahnya. Dan juga Orang Tuanya yang baru.

Saya juga sedang mencari orang untuk pekerjaan di perusahaan saya yang kosong. Apa Bapak mau mangisi posisi itu?” tawar Papa Angga ke Ayah Keizha.

Te, tentu saja Pak!” jawab Ayah Keizha sambil terisak.

Kini semuanya lengkap. Semuanya telah berbahagia.

Semua telah berubah. Karena kehadiranmu, Ngga. Thanks. Aku pasti bakal slalu jaga orang tuamu seperti orang tuaku sendiri. Aku sayang sama kamu, cahaya bintangku.” Bisik Keizha di samping batu nisan Angga.


THE END

Sabtu, 19 November 2011

KEEP MY LOVE

“sorrii… gue telat yah??” tanyaku saat baru masuk ke rumah Andin.
“telat banget tau! Perjanjiannya kan jam enam! Sekarang jam brapa nii?? Udah hampir jam 7!” jawab Moza dengan wajah yang menyebalkan.
“gue kan udah bilang sorii!” seruku tidak mau kalah.
“udah udah! Ni mau belajar atau berantem sih??” Andin mencoba menengahi pertengkaran ini.
Aku pun bergabung dengan mereka dan memilih duduk dekat dengan Andin dan segera mengerjakan tugas yang di berikan oleh pak Anto. Aku, Andin dan Moza memang sudah bersahabat sejak baru masuk SMA. Dan sekarang kami bertiga duduk di kelas 2 SMA di kelas yang sama. Aku, Mourice Tanuwijaya, yang biasa dipanggil Uris, mempunyai sifat yang kekanak-kanakkan dan penakut. Anak- anak lain juga banyak yang bilang kalau aku tomboy. Jika Andin, dia anaknya pintar, dan juga lucu. Saat aku ada pertengkaran dengan Moza, Andin selalu menjadi penengah. Sedangkan Moza, semua kata-kata yang terucap dari mulutnya hampir keseluruhan kata-kata yang pedas. Namun kata Andin, Moza adalah anak yang baik.
“yes!! Akhirnya selesai juga!” seruku.
“iya.. ternyata nggak seberapa sulit asal kita ngerti.” tambah Andin.
“iya.. ya udah, gue pulang duluan ya.. udah jam 8 nih..” ujar Moza.
“gue juga!”
“loe pulang naek apa ris? Bukannya loe tadi bilang kalo Mama Papa loe lagi di Jerman? Kak Adit ama Kak Viktor juga pergi.. emang loe pulang mo naek apa?” Tanya Andin. Aku pun teringat bahwa pak Eko, supir keluargaku sedang pulang kampung.
“jalan kayaknya. Kan nggak seberapa jauh..” jawabku.
“nggak takut? Nih kan udah malem..” kata Andin.
“biarin aja.. dia kan sok berani..” ejek Moza. Aku hanya melotot.
“ya udah.. gue pulang dulu ya!” pamitku.
Aku pun segera berjalan pulang.

-----II-----

“loe harus berani! Harus berani!” ucapku saat aku mulai jalan di jalanan yang sepi. Aku jadi teringat semua film horror yang pernah ku tonton. Hampir saja aku menangis karna ketakutan.
Kresek-kresek…
Kresek-kresek…
seperti ada yang membuntuti aku dari belakang.
“copet?” tanyanya dalam hati.
Aku pun segera mempercepat langkahku.
Semakin lama semakin terdengar suara langkah kaki seseorang selain aku. Semakin dekat..
“aaahh!!!!!” teriakku saat ada tangan yang memegang pundakku. Aku meronta-ronta dan mencoba melepaskan tangan itu dari pundakku.
“sssstt.. hey! Tenang!! Ni gue! Moza!!” seru orang itu.
Aku pun mengintip dari celah tangan yang menutupi wajahku. Dan ternyata orang itu memang Moza.
Lalu Moza pun tertawa terbahak –bahak.
“katanya loe berani??” Ejek Moza.
“Nga, ngapain loe disini?” tanyaku.
“nemenin loe pulang. Yukk..” ajak Moza sambil menggandeng tanganku. Mukaku pun menjadi merah.
“ada apa?” Tanya Moza saat dia menyadari perubahan warna di wajahku.
Aku hanya terdiam. Lalu tiba-tiba Moza melepaskan pegangan tangannya.
“ya udah kalo nggak mau gue temenin.. gue pulang nih..” goda Moza.
Aku tetap terdiam sambil tertunduk. Air mata mulai menetes satu persatu ke pipiku.
“loe, loe kenapa? Sssttt.. jangan nangis! Nanti orang-orang ngira loe gue apa-apain..” Tanya Moza.
“gu, gue.. gue takut..” jawabku.
Moza hanya menghembuskan nafas panjang.
“loe pegang aja tangan gue. Ya tapi kalo loe gak mau juga ga..” belum selesai perkataan Moza, aku keburu menggandeng tangannya.
“gue mau kok..”
Moza hanya tersenyum. Aku sedikit terkejut melihat senyumnya. Senyum yang biasa dia gunakan adalah senyum penuh dengan kejailan. Namun senyum kali ini berbeda. Meskipun aku tidak tau apa perbedaannya.
“kalo loe masih takut, jangan jauh-jauh dari gue.” Ujar Moza. Aku hanya mengangguk.
Di perjalanan, Moza menceritakan kisah masa kecilnya yang lucu-lucu. Saat dia jatuh dari sepeda, saat dia di kejar anjing tetangganya, semuanya membuatku tertawa. Aku menjadi tidak takut lagi.
Malam ini dingin sekali. “seharusnya gue pakai jaket kayak Moza!” pikirku.
“hatchii…!!” kini aku merasa kena flu.
“loe sakit?” Tanya Moza.
“nggak kok.. Cuma flu aja.. dingin..” jawabku sambil tetap tersenyum.
“huufft.. loe tu orangnya sok banget yah..?? udah tau sakit malah sok kuat..” lagi-lagi kata-kata pedas dari mulutnya.
Aku hanya diam.
“hatchiii..!!”
“hatchii..!!”
Moza pun melepas jaket yang dipakainya dan memberikannya kepadaku.
“ni pake.. lain kali jangan lupa pake jaket..” ujar Moza.
Aku hanya menatapnya.
“nggak deh.. kamu aja yang pakai..” tolakku.
Moza lagi-lagi tersenyum dan memasangkan jaketnya ke pundakku.
“cowo lebih kuat dari cewe..” katanya dengan halus. Aku terdiam. Jalanku seketika berhenti. Aku merasa aneh. Aku merasa melayang saat kata-kata itu terucap dari mulutnya.
Aku dan Moza pun melanjutkan sisa perjalanan hanya dengan diam.
“apa ini? Ada apa dengan hatiku? Mengapa jantungku terus berdegup dengan kencang?” tanyaku dalam hati.
“hey.. ni rumah loe kan?” Tanya Moza sambil menunjuk rumah yang baru kita lewati.
“iya!” jawabku. Aku pun sadar bahwa aku sudah melewati satu rumah dari rumahku.
“ya udah kalo gitu gue pulang dulu.” Kata Moza.
“ehm, I,iya..”
Moza pun mulai berlalu.
“eh, jaket loe..” aku melepas jaket Moza.
“loe bawa dulu aja. Mungkin loe masih butuh..”
“ta, tapii..”
“udahlah! Daaa…!” Moza berlari pergi.
“Za!!” panggilku.
Sejenak Moza menoleh.
“Thanks ya!” seruku. Moza hanya tersenyum, melambai, lalu pergi.
Aku segera masuk kekamarku dan membaringkan tubuh di atas tempat tidurku yang empuk. Memeluk jaket yang masih ada di tanganku.
“bau parfum Moza..” bisikku saat aku mencium jaketnya.
Aku memutuskan untuk menelpon Andin.
“halo, dengan Andin. Ini siapa?”
“Gue Uris.”
“oh, ada apa ris? Tumben telpon gue?”
“ya nggak papa.. mmh.. ris, gue mau nanya-nanya tentang Moza.. Moza tu anaknya gimana?” tanyaku malu-malu.
“eh, emang kenapa? Loe suka ama Moza?”
“emmh.. nggak tau.. gue rasa sih..”
“eh ris, gue mau pergi. Besok dilanjutin bias kan?”
“ya uda kalo gitu.. bye..”
KLIK.
Andin menutup telponnya.
Aku merasa aneh. Aku hanya bisa tersenyum sendiri.
“Diary!” seruku tiba-tiba.
Aku langsung bangun dari tempat tidurku dan mengambil Buku Diaryku yang bersampul biru di meja.
Aku pun mulai menulis.

Dear Deary,
Hari ini aku ngerasa ada yang beda dari Moza.
Senyumnya, tatapannya, semua terasa berbeda.
Dulu yang aku tau,
hanya ucapan pedas yang keluar dari mulutnya.
Walau aku hanya mempunyai 30 menit untuk bersamanya,
aku tetap bersyukur.
Aku tidak tau perasaan apa ini,,
namun, biarkanlah begini..

Entah kenapa, malam itu aku ingin cepat tidur agar besok dapat segera bertemu dengan Moza.
Malam itu aku bermimpi bertemu dengan seseorang. Seseorang itu memancarkan sinar. Sinar yang sangat terang.

-----II-----

Pagi itu aku masuk sekolah dengan wajah yang gembira. Di sekolah sudah ada Andin dengan membawa buku. Namun Moza tidak terhilat.
“Ris, Moza lagi sakit.” Kata Andin yang seperti bias membaca pikiranku.
“sakit apa?” tanyaku sambil menaruh tas di atas meja.
“nggak tau.. nanti kamu bisa ikut aku jenguk Moza? Tadi aku udah di telpon ama Mamanya Moza. Mamanya lagi ada janji ama rekan kerjanya. Gue di suruh jagain Moza. Loe mau ikut kan?”
Aku tau dari tatapan Andin yang seperti memasaksa aku untuk mengatakan iya.
“oke..” jawabku.

KRING.. KRING.. telepon rumahku berbunyi saat aku baru saja selesai sarapan. Aku membiarkannya berbunyi. Toh nanti jika Bi Sumi mendengar, pasti akan di jawab. Namun telepon itu berbunyi terus. “mungkin Bi Sumi tidak mendengarkannya.” Pikirku. Aku segera menuju ke arah telepon dan mengangkat gagang teleponnya.
“halo?”
“eh, ini Uris? Ris, sori gue nggak bisa jagain Moza..” kata Andin, tampak gelisah.
“trus?” tanyaku bingung. “emang ada hubungan apa ama gue?” tanyaku dalam hati.
“mamanya udah terlanjur keluar. Gue nggak bisa njagain karna gue mau pergi ke Nenek gue.” Jawab Andin. “bisa nggak loe jagain dia sendiri?” tambahnya.
“hah??”
“oke.. ya udah.. tolong jagain ya! Kata mamanya dia belum makan.. see you..!” KLIK. Andin menutup teleponnya.

“huekk.. loe masak apaan sih? Asin banget..” Tanya Moza.
“ini Nasi goreng!” jawabku sebal.
“Nasi goreng kok warnanya tetep putih.. seharusnya tu merah.. asin, juga..”
“cerewet banget sih loe! Sukur-sukur gue udah mau masakin buat loe.. ni.. makan aja sendiri!” kataku sambil menyodorkan piring yang berisi nasi goreng.
“oke.. gue juga bisa kok makan sendiri.. emang sapa yang nyuruh loe masak?” Tanya Moza menyebalkan.
“udahlah! Kalo emang loe isa sendiri, gue pulang aja!” seruku. Emosiku sudah tidak terkendali. Aku mengambil tasku dan bergegas pulang. Namun Moza menarik tanganku.
“iya.. iya.. sori.. gue minta maap..” kata Moza.
Aku duduk kembali dengan muka sok ngambek.
“oke.. sekarang gue janji bakal makan ini habis bersih. Tapi loe jangan pulang.” Ujar Moza.
Aku hanya tersenyum.





“Gue sayang ama loe..” kata Moza serius saat aku dan dia istirahat berdua.
Hatiku serasa berbunga mekar. “mak, maksud loe? Loe udah gila ya?” tanyaku pura-pura bego.
Moza hanya tertawa.
“hhmmm.. bagus gak ekspresi gue tadi??” Tanya Moza. Aku hanya bengong.
“ja, jadii.. tadi cuma…”
“he..he.. loe jangan bilang sapa-sapa yah..” bisik Moza. Aku cepat-cepat mengangguk.
“gue mau nembak Andin.” Kata Moza sambil tersenyum
Hatiku terasa hancur. Aku tanpa bisa menjawab apa-apa hanya bisa terdiam.
“gimana? Ekspresi loe tadi.. sama nggak yah ama ekspresi Andin nanti??” Tanya Moza sambil tersenyum.
Sekali lagi aku hanya terdiam. Aku tidak tau harus bicara apa. Aku merasa mulut ini terkunci sangat rapat.
Sampai akhirnya bel tanda masuk kelas berbunyi.
Entah apa yang aku pikirkan. Aku merasa bahwa hari ini aku menjadi kacau.

“loe kenapa sih?” Tanya Andin saat istirahat.
“nggak tau.. lagi ga mood aja.” Jawabku singkat.
“loe tu kayak orang patah hati aja..”
“patah hati? Apa aku memang patah hati? Apa aku cemburu? Mourice!! Apa yang loe pikirin???!!” bisikku dalam hati.
Aku hanya diam. Dan Andin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“hey plend! Gue dapet berita bagus!” seru Moza yang datang dari belakang.
“berita apa’an?” Tanya Andin, ingin tau.
“beritanya tu..” Moza mencoba menceritakan. Tapi aku segera pergi dari hadapan Moza. Meninggalkan mereka yang bingung dengan sikapku yang tidak seperti biasanya.

Saat pelajaran pun aku tetap diam. Bahkan aku berpindah ke tempat duduk yang kosong. Padahal aku duduk dengan Andin. Menutup mulut rapat-rapat. Tiba-tiba secarik kertas terlempar ke arahku. Aku menoleh. 4 bangku dari bangkuku, terlihat Moza menatapku dan menunjuk-nunjuk dirinya. Aku membuka surat itu dan membacanya.
“loe kenapa?” itulah isi dari surat itu.
Aku tidak membalasnya. Aku meremasnya dan membuangnya pada kolong meja. Tidak lama kemudian, ada surat lagi yang mendarat tepat pada depanku. Aku melihat 2 tempat dar sisi kiriku, Andin sedang menatapku.
“loe hari ini kok aneh banget sih?” ternyata memang benar surat itu dari Andin karna tulisannya sangatlah rapi.
Aku tetap tidak membalasnya.

Aku segera keluar dari kelas saat aku melihat Andin sudah di jemput.
“Loe tu kenapa sih? Tiba- tiba ngambek nggak jelas.” Tanya Moza dari belakangku. Aku terkejut.
Aku mencoba menghindar darinya. Namun Moza memegang tanganku.
“lepasin gue!” seruku.
“gue ga bakal ngelepasin sebelum loe bilang yang sebenernya!” seru Moza.
Aku tetap mencoba melepaskan tangan Moza dari tanganku. Namun pegangan tangan Moza semakin di pererat.
“Mau loe tu apa sih?” tanyaku.
“gue pingin loe jujur! Cuma itu!!” seru Moza dengan emosi yang tinggi.
“loe kepingin gue bilang apa? Kenapa sih loe tu ga pernah peduliin orang laen?? Kenapa loe tu nggak pernah mau tau perasaan orang laen?”
“apa yang salah dari gue?? Apa??” Tanya Moza.
“apa loe nggak nyadar ama kesalahan loe?? Apa loe ga punya pikiran karna kesalahan loe?”
Moza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“udah! Sekarang terserah ama loe! Gue nggak peduli lagi tentang loe! Gue nggak peduli apa mau loe! Loe tu Cuma bawa repot ke gue!!” teriak Moza lalu pergi meninggalkan aku yang meneteskan air mata.
-----II-----

Sesampainya dirumah, aku membuka kembali buku Diaryku.
Dan meluapkan emosiku disana.

Dear,
ternyata aku memang tidak berhak untuk memiliki dia.
Aku tahu aku tidak sesempurna Andin.
Aku sadari semua kekuranganku.
Namun hati ini telah lelah.
Mengapa cinta datang jika hanya membuatku sakit hati?
Lebih baik aku tidak mempunyai rasa ini!
Tuhan, tolong bantu aku.
Hilangkan rasa ini.
Atau hilangkan aku di hadapan mereka!!
Aku baru menyadarinya. Aku memang menyayangi Moza. Namun dia mencintai sahabatku. Kenapa aku memiliki perasaan ini? Apa yang harus aku lakukan?? Aku membenamkam diri di bantalku. Air mata mulai membasahi bantal. Aku ingin melupakan semuanya. Aku harus melupakan cinta, dan juga sahabatku. Aku harus pergi. Pergi jauh.
“ma, pa..” panggilku sambil berjalan ke arah mereka yang sedang duduk di sofa depan televisi.
“ada apa sayang?” Tanya Papa.
“aku ingin pindah ke rumah Oma di Amerika.”


Selama 4 hari aku tidak masuk sekolah. Aku merasa malas. Aku tidak ingin bertemu dengan Moza ataupun Andin. Aku ingin sendiri.

-----II-----

1 minggu kemudian, yaitu hari ini, adalah jadwal keberangkatanku ke Amerika. Awalnya keinginanku untuk pindah ditentang oleh Papa dan Mamaku. Namun karna mereka kalah dengan semua pembelaanku, akhirnya mereka memperbolehkan dan berjanji mengantarkan aku pindah ke Jakarta.

“Uris, apa kamu yakin ama semua ini?” Tanya Mama saat aku memberesi barang-barangku di kamar.
Aku hanya mengangguk.
Mama tersenyum lalu duduk disampingku.
“Kalau kamu ingin pindah hanya karna ada masalah, kamu pasti akan menyesal. Mungkin pertama memang sakit, namun kamu kan anak mama. Jadi harus kuat. Kuat menghadapi apapun. Mama nggak akan maksa kamu buat tetap tinggal. Mama Cuma ingin yang terbaik buat kamu. Ngerti kan nak?” jelas Mama. Aku hanya terdiam. Aku kembali mengingat kenangan-kenangan yang dulu aku kumpulkan. Lalu aku tersenyum pada Mama. Dan Mama hanya mengusap rambutku, lalu pergi.
Aku segera mengeluarkan jaket Moza dari lemariku. Memeluknya. Dan menciumnya.
Sebelum aku berangkat ke Bandara, aku menyempatkan diri untuk ke kebun belakang rumah. Untuk mengenang kejadian di rumah ini.
Aku duduk di kursi kesayangan Papa.
Aku membuka buku diaryku lagi dan menulis,

Diary,
jujur, aku nggak ingin kehilangan dia.
Aku tidak ingin berpisah darinya.
Aku mencintainya!
Lebih dari apapun!
Aku baru menyadarinya!
Karna saat dekat dengannya,
bahagia mengetuk pintu hati.
My dear diary,
apakah aku akan benar-benar kehilangan dia untuk selamanya?
Apakah ini keputusan yang terbaik?
God, please help me..!

Aku mencoba mengingat sedikit demi sedikit kenangan-kenangan bersama Moza. Kadang aku tersenyum saat mengingat Moza yang terjatuh ke selokan saat belajar sepeda motor. Moza sampai sekarang pun tidak bisa naik sepeda motor. Aku memang haru melupakan Moza.
“Ris.. ayo berangkat..” kata mama membuyarkan lamunanku.
“iya ma..” jawabku.

Tepat pukul 10 siang aku sampai di bandara. Papa yang mengantar aku sampai ke Amerika. Pesawat yang akan aku tumpangi akan berangkat 15 menit lagi. Aku berpamitan kepada Mama dan Kakak-kakakku. Tanpa sengaja aku mendengar lagu yang sedang di putar oleh kakakku.
tiap kali, aku berlutut, aku berdoa.. suatu saat, kau bisa cinta padaku.. tiap kali, aku memanggil, di dalam hati.. mana sunny, mana sunnyku.. mana sunnyku..
“lagu ini..” aku berpikir dalam hati. Aku merasa lagu ini sangat ada hubungannya denganku.
“Maurice!!” panggil seseorang. Aku menoleh. Ternyata Moza memanggilku dari jarak yang kurang lebih 20 meter. Dia berlari ke arahku.
“ris.. maafin gue.. plis jangan pergi. Gue..” katanya sambil mencoba mengatur nafasnya.
“Za, ini keputusan gue. Gue nggak bisa tinggal di sini. Gue kangen ama Oma gue.” Ujarku. Moza menarik tanganku dan menenggelamkanku dalam pelukannya.
“apa loe nggak kasian ninggalin gue sendiri??” Tanya Moza. Aku melepas pelukkannya.
“ada Andin. Lagipula loe bisa jaga diri loe sendiri.” Jawabku. Moza memegang tanganku.
“gue nggak bisa jika nggak ada loe.”
“Za, gue harus pergi. Bentar lagi pesawat gue..”
“plis Ris.. nggak ada sahabat gue yang sebaik loe..” aku terkejut mendengarkan ucapan Moza.
“Ris, cepat ambil keputusan. 10 menit lagi pesawat kita akan berangkat.” Kata Papa. Aku mengangguk.
“sori Za.. gue tetep bakal pergi..” kujarku sambil melepas tangannya dari tanganku.
Aku membuka koperku dan mengambil sesuatu.
“ni jaket loe..” ujarku sambil menyerahkan jaket Moza.
Aku berbalik dan menarik koperku ke arah check boarding. Lau aku mendengar seseorang yang sedang bernyanyi. Merdu sekali walau tanpa iringan music.
Whereever you go, whatever you do.. I will be right here waiting for you..” walau hanya sebentar, nyanyian itu sungguh membuat hatiku bergetar. Aku menoleh karna ingin tau siapa yang telah menyanyikannya. Dan ternyata semua orang memandang Moza. “apa, tadi itu yang menyanyikan lagu itu adalah, Moza?” tanyaku dalam hati. Namun Moza seperti membaca isi hatiku saat dia amengangguk dan tersenyum padaku. Akupun membalas senyumannya.
“GUE SAYANG AMA LOE, RIS!! BUKAN ORANG LAEN ATAUPUN ANDIN! GUE SAYANG AMA LOE!!” teriak Moza. Jantungku berdebar cepat sekali. Wajahku panas memerah. Moza menghampiriku. Lalu memelukku.
“biarkan gue membusuk di sini kalo loe ningalin gue..” ujar Moza.
“loe.. bener sayang ama gue?” tanyaku.
“lebih dari siapapun. Gue Cuma sayang ama loe. Gue nggak pingin loe pergi dari sisi gue..”
“tapi.. loe bilang kalo loe sayang ama Andin?”
“gue cuma pura-pura.. waktu itu sebenernya gue emang nembak loe, tapi karna ekspresi loe kayak gitu, gue takut loe nolak gue..” jelas Moza dengan pipi memerah.
Aku hanya terdiam. Aku bingung antara memilih pergi atau tidak. Aku juga menyayangi Moza. Tapi..
“kalo emang loe tetep mau berangkat, gue bakal nunggu loe kok..” kata Moza dengan senyumnya yang lembut.
Aku meneteskan air mataku.
“gue nggak pingin loe nggak jadi berangkat hanya gara-gara gue..” Moza mengusap air mataku.
Aku tersenyum. Baru kali ini aku melihat sisi baik Moza. Senyumnya penuh dengan ketulusan.
“gue bakal nunggu loe slamanya..”
Moza pun berbalik dan menjauh dariku.
Aku melirik Mama dan Papaku yang hanya tersenyum.
“Za!! Gue mau slalu ama loe. Gue mau buat slalu ada di samping loe! Gue juga sayang ama loe!”
Moza menoleh. Tersenyum. Lalu berlari memelukku. Aku merasa semua mata menatap ke arahku. Aku tidak peduli! Aku hanya ingin bersama Moza!

“loe ke bandara naek apa?” tanyaku. Mama dan Papa sudah pulang duluan naik taxi. Dan Moza ingin mengajakku ke suatu tempat.
“naek sepeda..”
“haha??”
“iya.. yuk..”
Aku kira Moza berbohong bahwa dia ke bandara naik sepeda, tapi ternyata benar. Padahal jarak rumah Moza ke bandara cukup jauh.
“Yuk..” ajak Moza sambil naik ke sepeda. Aku pun menurut dan duduk di belakangnya.
“siap?” Tanya Moza.
“oke!”

Di sepanjang jalan, kami bertukar cerita. Kadang serius, kadang juga bercanda. Moza sempat berhenti untuk membelikanku es krim. Kami juga sempat duduk di taman dekat kompleks rumahku.
“Ris..” panggil Moza saat kita duduk di ayunan di taman.
“hem?”
“janji jangan pernah ninggalin gue. Gue nggak mau sendirian..”
“asal loe nggak nyebelin aja..” godaku.
“emang gue nyebelinnya kayak apa sih? Apa nggak malah nggemesin..?” Moza tersenyum lucu. Aku merasa, kadang dia menjadi anak kecil yang manja, kadang juga menjadi seorang yang dewasa.
“eh, gue mau nyanyiin lagu buat loe..” kata Moza. Aku hanya tersenyum.
kaulah yang pertama.. yang memberi arti cinta.. tuk selamanya tetap di hatiku..” Moza menyanyikannya dengan tersenyum. Memegang tanganku.
ingin memelukmu.. mendekap hangat cintamu.. tuk selamanya, ku tetap di hatimu..” tambahku. Kita berdua tersenyum.
“suara loe enak juga..” puji Moza. Aku Cuma tersenyum malu.
Tiba-tiba ada seorang gadis kecil yang berumuran sekitar 7-8 tahun menangis di depan kita.
“kenapa dek..?” Tanya Moza, menghampirinya. Namun tangisan anak itu semakin menjadi.
“eh.. ssstt… eh.. gue kan gak ngapa-ngapain..” kata Moza sambil menoleh padaku. Aku hanya tersenyum. Aku mengambil permen di saku kiriku. Dan mengeluarkan permen coklat. Aku memberikannya kepada anak yang menangis tadi.
“mama kamu di mana?” tanyaku halus saat tangisannya reda.
“aku nggak tau..” kata anak itu polos.
“tadi kesini sama siapa?” tanyaku lagi.
“kakak..”
“mana kakaknya?”
“Lagi beli es buat Ninda.”
“Ninda siapa..?”
“aku..”
“beli es nya dimana?” tanyaku terus.
Anak kecil yang bernama Ninda itu menunjuk sebuah warung di pinggir taman.
“ya udah sekarang ikut kakak ke sana buat nyariin kakak kamu..” ajakku.
Anak itu menggeleng.
“kenapa?” tanyaku.
“aku takut ama anak itu..” jawab Ninda sambil menunjuk Moza. Aku hanya tertawa.
“tenang aja. Kalo dia nakal, tinggal cubit aja..” kataku sambil terus tertawa. Apalagi saat Moza melotot ke arahku. Ninda mencubit perut Moza.
“Aaauuw.. apaan sih???” Tanya Moza.
“kakak jelek!” ejek Ninda. Aku semakin tertawa.
“Ninda!!” panggil seseorang. Ninda menoleh, tersenyum dan berlari kea rah perempuan yang memanggilnya itu. Aku melihat wajah perempuan yang seperti baru berumur 22 tahun itu sangatlahcantik, namun saat Ninda menghampiri perempuan itu dengan senyumannya, perempuan itu malah memukul Ninda di bagian pahanya sebanyak 3 kali. Aku melihat Ninda yang hampir menangis. Aku merasa kasihan.
Tanpa aku sadari Moza sudah menghampiri perempuan itu.
“hey anda itu perempuan. Sama anak-anak itu lembut sedikit dong..” ujar Moza.
Perempuan itu memandang Moza dengan pandangan mengejek. “memang kamu siapa berani ngatur-ngatur saya? Ini itu nggak ada hubungannya ama kamu!”
“tapi mbak, Ninda masih anak-anak. Anda tidak bisa memukul dia sembarangan. Apalagi Ninda tidak salah apa-apa. Mbak kan yang meninggalkan dia saat mbak membeli es?” cecar Moza tanpa ampun.
“apanya yang tidak bisa? Ninda anak saya. Kammu nggak berhak buat ngelarang saya mukul Nanda. Toh kamu juga bukan siapa-siapanya Nanda..”
Aku pun menarik tangan Moza untuk segera pergi dari sini dan meninggalkan debat ini.
“gue nggak trima kalo anak kecil di pukul kayak gitu!” seru Moza, emosi.
“iya gue tau. Gue juga gitu. Tapi emang bener kita bukan siapa-siapannya.”
“tapi..”
“udah ah.. lupain aja. Pulang yuk!”

“gue aja yang nyetir..” usulku.
“tapi..”
“loe kan pasti capek naik sepeda dari rumah lo eke Bandar.” Ucapku sedikit manja.
“oke deh..” jawab Moza.
Kami kembali bercerita tentang Ninda. Namun ada perasaan janggal saat aku membonceng tubuh Moza. Aku merasa melayang tak menentu.
Namun aku mencoba mengalihkan perhatianku dengan memikirkan kenangan-kenangan yang dulu bersama Moza.
“Awas Riisss!!!” teriak Moza.
Aku tersadar bahwa di depanku ada sebuah truk yang besar. Moza melompat dari sepeda dan mendorong sepedaku ke tepi dengan kuat. Sampai aku menabrak pohon dan terjatuh. Darah mengalir dari dahiku. Aku merasakan sakit yang bukan main. Aku juga sempat mendengarkan decit rem truk. Aku mencoba bangkit. Namun aku terlalu lemah. Aku menoleh. Mencari Moza.
Aku melihat kerumunan orang yang jumlahnya sekitar 15 orang. Aku juga ingin bergabung disana. Ingin melihat ada apa. namun aku melihat tangan seseorang yang tergeletak di bawah kaki orang-orang.
Aku berdiri dengan seluruh kekuatanku yang tersisa. Tidak peduli dengan sakit yang kurasa dan aku terus menerobos kerumunan orang itu.
Jaket itu aku pernah memeluknya! Aku menelitinya lagi. Aku melihat wajahnya.
“MOZAAAAAA!!!!” teriakku. Darah Moza juga keluar dari kepala bagian kirinya.
“telepon ambulan..” kata seseorang di anatara kerumunan.
Ingin aku memeluk tubuh seseorang yang aku sayangi itu. Namun aku terlalu takut.
Terlalu takut untuk menyadari bahwa aku tidak akan bersamanya lagi..

-----II-----






Aku duduk di atas tanah yang menyimpan jasadnya. Aku tak lagi menangis. Aku sudah terlalu lelah untuk menangis. Amam masih menungguku di samping perkuburan.
“Ris..”
Aku menoleh. Andin langsung memelukku. Menangis di pelukanku.
“gue nggak nyangka bakal jadi kayak gini.” Kata Andin.
Lalu Andin melepas pelukannya dariku, tersenyum lalu pergi meninggalkanku.
Tanpa sadar, air mata yang aku kira sudah membeku, tetap mengalir. Dan entah kenapa, tiba-tiba aku menyanyikan lagu ini. Aku tidak tahu.
kirim aku malaikatmu.. Biar jadi kawan hidupku.. Dan tunjukkan jalan yang memang kau pilihkan untukku.. kirim aku.. malaikatmu, karna ku sepi berada di sini.. dan di dunia ini aku tak mau sendiri..
Aku memeluk batu nisan yang bertuliskan nama Moza Syahputra.
“Za, gue sayang ama loe. Loe juga sayang ama gue kan?” bisikku. Lalu bangkit berdiri untuk segera beranjak dari tempat ini.
Saat aku akan menaiki mobil, aku menyempatkan diri untuk emnoleh dan aku merasa Moza masih ada di sana. Dengan senyum yang pasti akan sangat ku rindukan.
Angin berhembus. Menggerakkan daun-daun pepohonan yang terasa menari. Aku merasa ada seseorang yang berbisik,
“aku memang sayang sama kamu.. Please keep my love..”
Aku tersenyum, mengangguk dan meninggalkan tempat peristirahatan terakhir untuk Moza ini.


-----THE END-----