Kheiza mempunyai adik perempuan bernama Andin yang berumur 14 tahun yang sekarang duduk di kelas 3 SMP. Beberapa orang mengira bahwa Keizha dan Andin adalah anak kembar karena paras yang sama. Dan Andin yang biasa memasak makanan untuk keluarganya. Keluarga Keizha berasal dari keluarga yang sederhana. Ayah Keizha bekerja sebagai pemulung yang sehari hanya mendapatkan 10-20 ribu per hari. Dan Ibu Keizha sudah meninggalkan keluarga Keizha sejak Andin bayi dan menikah dengan pria lain.
“Kak, ini makannya sudah siap..” kata Andin dari balik pintu kamar Keizha.
“Iya..” jawab Keizha. Keizha segera mengambil Tongkatnya dan berjalan pelan menuju meja makan. Di sana ada Andin yang sudah berpakaian sekolah dengan rapi.
Keizha mencium bau makanan yang sangat lezat saat Dia keluar kamar.. “Heemmm.. Baunya enak banget.. Masak apa hari ini?” Tanya Keizha.
“Sayur asem sama tempe tahu.” jawab Andin sambil menuntun Keizha duduk di kursi meja makan.
Andin mengambilkan piring, nasi, serta lauk pauk untuk Keizha lalu menyuapinya.
“Wahh.. Enak loh dek.. Kamu pasti bisa jadi koki!” puji Keizha.
“Oh iya dik, Ayah mana?” Tanya Keizha.
“Ayah sudah berangkat pagi-pagi tadi.” Jawab Andin sedih.
“Kamu kenapa dek? Kok suaramu kayak ada masalah?” Tanya Keizha sambil memegang tangan Andin.
“Nggak papa kok kak..” jawab Andin sambil tersenyum. “Maaf kak. Aku terpaksa bohong. Aku memang sengaja di suruh Ayah untuk tidak bilang ke kakak kalau aku belum membayar uang Sekolah 5 bulan. Ayah takut kakak ada pikiran.” Bisik Andin dalam hati.
“Baiklah. Dek, besok kan hari minggu, ikut kakak ke Taman yuk..” ajak Keizha.
“Ngapain kak..?” Tanya Andin.
“Ya jalan-jalan aja. Kakak pingin keluar.”
Sejenak Andin merasa malas. Namun demi Kakaknya tersayang, Ia akan melakukan apapun untuk Kakaknya. “Iya kak. Ehm, kak, Andin sekolah dulu ya.. nanti Andin telat..” pamit Andin sambil mengambil tasnya.
“Oh, iya.. hati-hati ya dek..”
Andin membuka pintu rumah dengan tergesa-gesa karena takut terlambat. “Daa kak..” Andin menutup pintu.
#
Andin berjalan menuju ruang kepala sekolah yang terletak bersebelahan dengan ruang guru. Entah ada apa, Kepala Sekolah memanggilnya.
“Permisi Pak..” kata Andin pelan sambil membuka pintu ruang Kepala Sekolah.
“Iya masuk. Duduk di sana” jawab Pak Alex, kepala sekolah Andin sambil menunjuk kursi di depan mejanya.
Pak Alex tampak sangat marah. “Andin, apa kamu sudah membayar 1 bulanpun pada minggu ini?” Tanya Pak Alex.
“Be, belum Pak.. Tapi kata Ayah..”
“Saya tidak butuh perkataan dari Ayah kamu! Ayah kamu dari dulu hanya bilang besok, besok, dan besok! Sebentar lagi kamu akan mengikuti ujian. Apa kamu mau tidak lulus?” Tanya Pak Alex.
Andin menggeleng. Hampir saja Andin menangis. Namun dia menahannya.
“Lalu bagaimana sekarang?” Tanya pal Alex lagi.
“Saya tidak tahu Pak..” bisik Andin.
“Bilang sama Ayah kamu. Kalau minggu depan kamu tidak bisa melunasi semua tagihan dari sekolah, lebih baik jangan berharap bisa menyekolahkan anaknya!” seru pak Alex.
Andin sudah tidak dapat menahan air mata lagi. Dia mulai menangis.
“Sekarang kamu pulang saja..!”
“Tapi pak..” Andin menatap Pak alex.
“Tapi apa?? percuma sekolah kalau tidak bisa membayar! Lebih baik kamu sekarang pulang! Cepat ambil barang-barang kamu..!” suruh pak Alex.
Andin keluar dari ruangan pak Alex dan berlari menuju kamar mandi. Dia menangis sejadi-jadinya. Pernah sekali seumur hidupnya, Dia menyesal menjadi orang miskin. Tetapi Kakaknya itu slalu mendukungnya.
#
Jam menunjukan baru pukul 9 saat Andin tiba di rumah. Wajahnya lesu. Dan matanya membengkak. “Adek pulang..!” seru Andin dan duduk di kursi meja makan.
Tidak lama kemudian terdengar langkah seseorang yang tergesah-gesah.
Keizha muncul dari balik pintu kamarnya. “Loh, dek? Kok udah pulang..?” Tanya Keizha.
“Iya kak. Ada rapat.” Dusta Andin.
“Oh.. Ayah juga sudah pulang. Kelihatannya Ayah sedang sakit.”
Andin mengerutkan kening. “Sakit? Sakit apa kak?”
“Kakak nggak tahu. Mungkin Cuma masuk angin.” Jawab Keizha.
Andin menghelakan nafas panjang. Lalu Andin pun masuk ke kamar Ayahnya.
“Yah..” panggil Andin. Ayah menoleh. Wajahnya terlihat pucat.
Namun Ayah tetap tersenyum. “Ada apa nak?” Tanya Ayah.
Awalnya Andin ingin bilang ke Ayahnya tentang tagihan sekolah, namun karena merasa keadaan Ayahnya kurang bagus, Andin memutuskan untuk mengurungkan niatnya.
“Nggak papa. Ayah istirahat aja.” Kata Andin sambil keluar dari kamar Ayahnya.
Hati Andin seperti menangis. Ingin rasanya dia tidak sekolah untuk meringankan beban Ayahnya.
#
Krrriingg..!! Alarm di kamar Andin dan Keizha berbunyi.
“Huaampp..” Andin bangun dari tempat tidur dengan mata setengah tertutup untuk mematikan alarm.
“Kak..” panggil Andin pada Keizha yang masih tidur di sampingnya.
“Hump??”
Dengan malas, Andin bangun dari tempat tidurnya. “Katanya mau jalan-jalan ke taman.. ni udah jam 5..” ujar Andin.
“Iya.. Kamu mandi duluan, ntar kakak baru mandi..” kata Keizha.
“Hu’umb kak..” Andin segera berjalan ke kamar mandi yang terletak di sebelah kamarnya dan bergegas mandi.
#
“Dek, disini kayaknya rame banget ya??” Tanya Keizha.
“Iya kak.. kan sekarang hari minggu..” jawab Andin sambil terus menuntun Kakaknya itu.
Keizha ingin sekali melihat pemandangan ini. Dimana banyak orang berkumpul. Entah dengan keluarga, teman, ataupun pacar. Keizha memang belum mempunyai pacar. Tepatnya belum pernah.
“Kak, tunggu di sini ya.. aku mau beli es dulu..” kata Andin. Keizha hanya mengangguk. Andin pun menuntun Andin untuk duduk di bangku yang ada di pinggir kolam ikan.
Cukup lama Keizha menunggu. Sekitar 15 menit. Namun Andin tidak juga kembali.
“Andin kemana ya?” Tanya Keizha dalam hati.
Karena sudah 30 menit lebih Keizha menunggu, dia memutuskan untuk berdiri dengan tongkatnya dan mencari Andin dengan memanggil-manggil nama Andin.
“Auuww..” Keizha terjatuh saat kakinya tersandung batu.
Namun tangan seseorang yang lembut menangkapnya dari belakang.
“So, sori..” ujar Keizha.
“Iya nggak ap..” laki-laki itu terdiam ketika melihat Keizha berusaha berdiri namun sedikit kesulitan.
Angga membantu Keizha bangun. “Kamu..?” Tanya laki-laki.
Keizha hanya diam tanpa jawaban. Namun Laki-laki itu tahu apa yang sedang Keizha alami. Laki-laki itu menuntun Keizha duduk di bangku dekat mereka.
“Nama kamu sapa?” Tanya laki-laki itu.
“Keizha.”
“Aku Angga.”
Mereka berdua terdiam.
Laki-laki yang bernama Angga itu menatap dalam Keizha.
“Kak!” panggil Andin. Andin segera berlari menghampiri Keizha.
Andin mengatur nafasnya agar kembali normal karena sudah berlari-lari mencari Keizha.
“Kak, maaf ya, tadi aku nyasar waktu nyari Kakak..” kata Andin.
“Iya, nggak apa. kamu nggak papa kan?” Tanya Keizha.
“Nggak papa kok.. Eh, ini siapa Kak?” Tanya Andin sambil melihat Angga.
“Eh, kenalin, aku Angga.” Angga mengulurkan tangan pada Andin.
Dengan sedikit malu Andin membalas uluran tangannya. “Andin..”
“Pulang yuk kak..” ajak Andin.
“Iya.. Emmm, sori, aku pulang dulu ya..” pamit Keizha pada Angga.
“Eh, aku kesini tadi bawa mobil, mau aku anterin..?” Tanya Angga.
“Nggak usah.. rumah kita deket kok..” jawab Keizha.
“Iya kak, mau!” seru Andin pada Angga. Angga Hanya tersenyum.
“Andin!”
“Tenang.. aku bukan orang jahat kok.” Kata Angga.
Keizha merasa malu. “Bu, bukan gitu, kami nggak mau ngerepotin..”
“Udahlah.. yuk!!”
“Aku di sini baru 2 minggu. Aku pindahan dari Bandung. Umur aku 18. Di sini aku belum punya temen. Jadi aku harap kamu mau jadi temen aku.” Jelas Angga saat mereka sampai di rumah.
Keizha hanya terdiam.
“Kamu.. Buta sejak kapan?” Tanya Angga.
“Sejak Kecil..” jawab Keizha.
“Ooh.. sorry..”
Tak lama kemudian, Ayah Keizha keluar dari kamar.
“Keizha.. eh, anda.. siapa?” Tanya Ayah dari belakang Angga.
“Ini temen Keizha Yah..” jawab Keizha.
Angga bangkit berdiri, menyalami Ayah Keizha. “Saya Angga Om..” ujar Angga.
“Hhm.. Zha, adik kamu mana?” Tanya Ayah.
“Andin tadi pamitan mau keluar..” jawab Keizha.
“Ya sudah, Ayah mau kerja dulu.. nanti kalau Ayah ketemu Andin, Ayah suruh pulang..”
“Ta, tapi Yah.. Ayah kan masih sakit..” kata Andin sambil bangkit berdiri dari kursinya dan meraba-raba mencari Ayahnya.
“Sudahlah.. Ayah ingin bekerja. Ayah malas kalau di suruh diam di rumah.. Nak Angga, tolong jaga Keizha sampai adiknya pulang..” kata Ayah kepada Angga sambil tersenyum.
“Iya Om..” jawab Angga.
“Ayah pergi dulu nak..” Ayah mencium kening Keizha lalu berangkat kerja naik sepedanya.
“Kamu kenapa nggak operasi..?” Tanya Angga sesudah membantu Keizha duduk kembali.
“Nggak..” jawab Keizha, singkat.
“Kenapa? Bukannya banyak yang ingin memberikan donor mata? Seperti bekas orang yang meninggal? Atau orang yang membutuhkan uang?”
“Bukan masalah donornya, tapi masalah ekonomi. Untuk makan saja susah, apalagi operasi. Operasi membutuhkan biaya yang besar. Aku tidak mau merepotkan Ayah.”
“Lalu Ibu kamu kerja apa?” Tanya Angga.
“Ibuku meninggalkan Ayah dan menikah dengan orang lain sejak Andin lahir.” Jawab Keizha.
“Dulu Andin sempat mau di ajak oleh Ibu untuk ikut dengannya, namun Ayah tidak memperbolehkannya.” Tambah Keizha.
“Kasian sekali ya Andin.. tidak dapat kasih sayang oleh seorang Ibu.”
“Kalau Orang tuamu sendiri kerja apa?” Tanya Keizha.
“Ayahku direktur di salah satu perusahaan ternama di Jakarta. Ayah sangat baik. Dia mampu mengerti keadaan keluarga. Apalagi waktu Ibu dan adikku masih ada.”
“Masih ada?” ulang Keizha.
“Ibu da n Adikku meninggal karena kecelakaan hebat saat aku berumur 3 tahun dan Ayah menjadi down. Semua pekerjaan Ayah gagal. Semua kekayaan Ayah habis. Ayah menjadi sensitif. Dia pemarah. Dia pemabuk. Dan setahun kemudian Ayah menikah dengan Seorang perempuan yang berusaha mengganti posisi Mama. Bahkan sekarang Ayah sudah hampir tidak memperdulikan aku lagi. Lalu aku di bawa oleh tanteku di Australia untuk disekolahkan disana. Namun 3 bulan yang lalu tanteku meninggal dunia. Maka dari itu aku pulang ke sini.” Jelas Angga.
Keizha terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa.
Angga menatap mata Keizha yang terlihat kosong. Ia meneliti wajah Keizha. Lalu ia tersenyum sendiri. “Oke, aku pulang dulu ya..” Pamit Angga.
“Apa itu?” Tanya Keizha tiba-tiba, saat mendengar suara tangisan. Angga melihat keluar. Ternyata ada Andin yang sedang menangis.
“Kamu kenapa?” Tanya Angga pada Andin.
“Aku.. aku habis di ejek sama teman-teman.. katanya aku nggak bisa sekolah..” Jawab Andin sambil terisak.
“Kok mereka bisa ngejek kamu kayak gitu?” Tanya Angga.
“A, aku memang belum membayar uang sekolah..” tangisan Andin semakin menjadi.
“Ke, kenapa kamu tidak bilang sama kakak?” Tanya Keizha yang keluar menghampiri Andin dengan berpegangan pada pintu.
“Kata Ayah aku nggak boleh bilang sama kakak. Ayah nggak mau bikin kakak bingung dan banyak pikiran.” Jawab Andin.
“Tapi kenapa Ayah bilang seperti itu?”
Andin hanya terisak-isak.
“Andin, memang kamu belum bayar berapa bulan?” Tanya Angga sambil mengusap air mata Andin.
“5 bulan..” jawab Andin.
“Sebanyak itu?? Kenapa kamu nggak bilang ke kakak? Kan kakak bisa pinjem uang ke tetangga.” Ujar Keizha.
“Dia nggak mau bilang ke kamu karna dia takut kamu banyak pikiran Keiz..” kata Angga.
“Ya udah, nanti kamu bilang aja ke Ayah kamu.” Tambah Angga pada Andin.
“Iya. Eh, kak.. hidung kak Angga berdarah.” Ujar Andin yang sudah bisa mengontrol isak tangisnya.
Angga segera mengambil sapu tangan yang ada di sakunya dan mengusapnya. Ini bukan pertama kalinya hidung Angga berdarah. Sudah hampir 2 tahun hidung Angga mengeluarkan darah. Bahkan kadang juga Angga merasakan pusing yang amat sangat sakit di kepalanya.
“udah kan??” Tanya Angga sambil mengedipkan sebelah matanya.
Andin mengangguk lalu masuk ke kamarnya.
“Kamu tidak papa kan?” Tanya Keizha sambil meraba-raba wajah Angga.
“Iya. Aku nggak papa.”
Keizha menghela nafas panjang.
#
Kini Keizha dan Angga sering bertemu dan mereka menjadi teman baik. Hampir setiap hari Angga bertamu di rumah Keizha. Entah perasaan apa yang merasuki Angga. Dia hanya selalu ingin berada di dekatnya. Atau dia hanya Iba dengan keadaan Keizha.
Pagi-pagi sekali Angga mengajak Keizha ke pantai yang sangat indah. Terlihat banyak orang yang sedang bercanda ria bersama dengan keluarga, teman, juga kekasih. Angga mengajaknya di tepi pantai. Keizha kaget dan terjatuh saat dia terkena air pantai yang dingin.
Angga tertawa saat melihat raut wajah Keizha yang ketakutan. Sejenak, Angga merasa bahagia.
“Eiitz.. Gerimis yah?” Tanya Keizha. Angga berhenti berjalan dan mengangkat tanganya. Dan memang setetes air jatuh dari atas langit. Angga akhirnya mengajak Keizha makan di warung dekat pantai dan menunggu sampai hujan berhenti.
Setelah puas bermain di pantai Angga mengajak Keizha ke Taman Angsa. Angga membawa Camera Digitalnya dan memfoto apapun yang dilihatnya. Namun Angga merasa banyak foto Keizha di dalam Cameranya.
Keizha sangat bahagia. Baru pertama ini Keizha keluar bersama seorang cowok. Dia merasa bahwa ‘mempunyai teman’. Karena sudah lama dia tidak mempunyai teman cowok untuk bisa diajak mengobrol.
Jam menunjukkan pukul 16.30. Lalu Angga mengajak Keizha ke Ayunan yang ada di dekat mereka. Angga menyuruh Keizha untuk duduk di ayunan tersebut. Dan Angga mendorong ayunan tersebut pelan-pelan.
“Ngga..” panggil Keizha.
“Iya?”
“Aku ingin bisa melihat wajah kamu saat tertawa. Sedetik sekalipun.” Ujar Keizha. Tanpa terasa, air mata terjatuh ke pipi Keizha yang lembut. Angga bingung harus bicara apa. Dia hanya mengusap air mata Keizha. “Aku yakin, suatu saat nanti kamu bakal bisa melihat aku. Kapan harinya, hanya Tuhan yang tahu.”
“Tapi.. Aku takut..”
“Aku janji nggak akan pergi dari sisi kamu.” Angga menarik tangan Keizha dan membenamkan Keizha ke pelukannya.
“Zha.. Aku ingin menjadi Cahaya.”
“Kenapa?” Tanya Keizha.
“Kamu tau nggak.. Cahaya itu dapat menyinari apapun dalam kegelapan. Seperti Bintang. Aku ingin sekali menyinari kegelapanmu..”
Angga mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kalung berbentuk Bulan di dalam Bintang, dan memasangkannya ke leher Keizha.
“A, apa ini?” Tanya Keizha sambil memegangnya.
“Ini kalung inisial kita. Zha, mulai sekarang aku akan menjadi Bintang, dan kamu akan menjadi Bulan. Aku juga memiliki kalung yang hampir sama dengan punyamu. Jika kalung ini kita pakai sampai selamanya, kita akan selalu bersama juga selamanya.” Jelas Angga.
Angga ingin berada di sini lebih lama. Dia juga takut bila ini pertemuan mereka yang terakhir. Namun kepala Angga mendadak pusing. Dan dari hidung Angga keluar setetes darah.
“Zha.. sekarang udah sore. Mendung lagi juga. Kita pulang yuk?” ajak Angga.
“Iya..”
“Hati-hati ya..” bisik Keizha kepada Angga saat Angga naik mobilnya, hendak pulang. Angga mengangguk mantap. Lalu pergi. Angga lupa melambai. Bahkan lupa berpamitan.
Sesampainya di rumah, hanya satu yang Angga inginkan. Berbaring di tempat tidur.
“Sore Pa, Ma..” sapa Angga kepada kedua orang tuanya yang duduk di sofa sambil menonton TV. Dan mengecup dahi Mamanya.
“Sore juga sayang.. Eh?? Hidung kamu berdarah lagi?” Tanya Mama Angga saat menyadari ada sisa darah di bawah hidung anak tirinya.
“Eh.. Nggak papa kok Ma..” ujar Angga sambil naik hendak ke kamar.
“Ngga, kamu ini udah di bilangi ama Papa dan Mama, apa salahnya jika kamu periksakan ke Dokter pribadi kita tentang penyakit kamu??” Papa Angga berdiri dan berjalan ke arahnya.
“Aku tidak apa-apa Pa..” Angga berjalan lagi dan belum sempat dia membuka pintu kamarnya, kepalanya pusing lagi. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya, namun semuanya menjadi bayangan. Dia terjatuh. Dan terakhir yang dia dengar adalah teriakan Mamanya.
#
Angga melihat sekelilingnya. Mata Angga hanya terbuka separo karna silau terkena cahaya. Saat dia mengamati lebih lagi di mana dia berada, dia sadar bahwa dia sedang di rumah sakit. Dia memandangi Kardiolog di sampingnya.
“Sayang..” panggil Mama tiri Angga.
“Angga sakit apa Ma?” Tanya Angga.
Mama Angga hanya menggeleng lalu menangis. Papa Angga yang berada di sisi kanan Mama Angga itupun memeluk bahu istrinya.
“Ma?” panggil Angga lagi.
“Tidak apa Nak..” Jawab Papa Angga.
Papa Angga tersenyum. Namun Angga merasa ada kejanggalan. Dia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan dari orang tuanya. Ingin dia menanyai lebih lanjut, namun kepalanya pusing kembali. Dia merasa lemah dan mudah rapuh. Dia memegang kepalanya.
“Kamu tidak pa-pa Ngga?” Tanya Papa Angga yang melihat perubahan ekspresi wajah Angga yang menunjukkan rasa kesakitan.
“Pu, pusing Pa..” Jawab Angga terus memegang kepalanya. Lalu Papa dan Mama Angga memanggil Dokter. Sekelilingnya menjadi kabur lagi. Lalu Dokter yang berperawakkan tinggi juga kurus datang dengan Suster di belakangnya. Dokter menyuruh Angga meminum obat kapsul namun sulit bagi Angga untuk menelannya. Tak lama kemudian setelah berhasil menelannnya, Angga merasa mengantuk lalu tertidur.
Saat Angga terbangun, dia hanya melihat Dokter yang sedang menata obat di meja kecil samping tempat tidur Angga.
“Dok, orang tua saya di mana?” Tanya Angga sedikit lemas.
“Oh, Papa dan Mama kamu pulang untuk mengambil barang mereka yang tertinggal.” Jawab Dokter dengan ramah.
Angga terdiam.
“Ada yang kamu butuhkan?” Tanya Dokter. Angga menggeleng.
“Baiklah, saya kembali ke ruangan saya dulu. Jika ada yang kamu butuhkan, tekan saja Bel disamping kamu itu dan Suster akan segera datang.” Jelas Dokter sambil berjalan ke arah pintu.
“Dok..” panggil Angga.
“Ya?” Dokter berbalik menatap Angga.
“Saya sakit apa Dok?” Tanya Angga takut-takut sambil mencoba duduk.
“Apa orang tua kamu tidak memberi tahu?” Tanya Dokter. Angga menggeleng lagi.
Dokter tersenyum lalu menghampiri dan duduk di samping Angga. “Ini mungkin bukan hak saya untuk memberitahu kamu. Tapi memang kamu harus tahu.”
“Apakah, penyakit saya begitu buruk?”
Senyum dari wajah Dokter menghilang perlahan.
“Dok?” Panggil Angga.
“Nanti saya coba membujuk orang tua kamu untuk bicara tentang penyakit kamu yang sebenarnya.” Kata Dokter. Angga diam sejenak kemudian mengangguk. Dokter memegang pundak Angga lalu pergi begitu saja.
Tidak lama setelah Dokter keluar, Mama dan Papa Angga membuka pintu. Angga berbalik dan berpura-pura tidur. Mama mencium dahinya dan mengusap-usap rambutnya.
“Ma..” panggil Papa Angga. Mama Angga menoleh dengan air mata hampir menetes.
“Memang dia bukan anak kandungku, tapi aku tidak bisa melihat dia tersiksa karena penyakitnya..” ujar Mama sambil mengusap rambut Angga lagi. Angga merasa wanita yang kini menjadi pengganti Ibunya itu begitu sayang padanya. Sesungguhnya dia tidak mempunyai niat untuk mendengar pembicaraan mereka, namun dia ingin tahu tentang penyakitnya.
“Ma, sesungguhnya kita harus memeberi tahu penyakit dia yang sebenarnya.” Kata Papa Angga.
“Tidak Pa! Dia tidak boleh tahu penakitnya. Dia akan semakin tersiksa!” Seru Mama Angga sambil berbalik menghadap suaminya.
“Ma, Dokter tadi juga sudah bicara bahwa Angga harus tahu penyakitnya! Dia harus tahu Ma..”
“Tapi jika dia tahu bahwa, bahwa dia sakit kangker otak stadium akhir, dia akan semakin menderita..”
Mendengar kata “Kangker otak stadium akhir” Angga terkejut dan segera membuka matanya.
“Ka, Kangker?” Ulang Angga. Mama dan Papa Angga terkejut melihat bahwa anaknya sedari tadi mendengar pembicaraan mereka.
“A, Angga, ini tidak seperti yang kamu dengar.. ini..” Mama mencoba menjelaskan kepada Angga. Angga menggeleng.
“Aku sudah yakin dengan apa yang sudah aku dengar dengan telingaku sendiri..” Jawab Angga. Mama Angga menangis memeluk Angga.
Angga merasa bahwa kini dirinya sudah tidak berarti. Untuk melindungi seorang gadis saja, dia tak akan mampu. Bahkan dia akan kehilangan gadis itu, juga semuanya!
#
14 hari sudah berlalu. Kegelisahan mendatangi Keizha. Dia belum juga bertemu Angga. Setiap pagi dia menunggu di luar. Keizha rindu pada Angga. Keizha takut kehilangan Angga. Keizha takut Angga melupakannya. Keizha mendadak mogok makan. Dia merasa kehilangan
#
TOK.. TOK.. TOk..
Sudah sekitar 2 menit Angga menunggu di depan pintu rumah Keizha sambil mengetuknya. Namun tidak ada yang membukanya.
“Kak!” panggil seseorang dari belakang Angga. Angga menoleh dan melihat Andin yang berlari ke arahnya. Di belakang Andin, Angga melihat Keizha berjalan di samping Ayahnya. Andin mendadak berhenti. Dia berdiri dalam jarak 1 meter dari Angga. “Ke, kenapa Kak Angga pucat sekali?” Tanya Andin dalam hati.
“Hay gadis kecil..” sapa Angga sambil tersenyum ramah. Lalu menoleh ke arah Ayah Keizha dan tersenyum kembali.
“Nak Angga kok..??”
Angga menaruh telunjuknya di depan bibirnya yang pucat. “Ssstt..”
“Hay Keiz..” sapa Angga pada Keizha.
“Kamu.. Kenapa lama nggak ke sini?” Tanya Keizha.
“Aku ada masalah di kerjaan..” jawab Angga, berbohong.
“Oh.. Eh, aku ke dalem dulu.” Kata Keizha.
“Iya..”
Keizha masuk ke dalam sambil di gandeng Andin.
“Mari nak Angga.. Silahkan duduk.” Kata Ayah Keizha sambil menunjuk kursi kayu. Angga tersenyum lalu duduk di kursi yang di tunjuk Ayah Keizha.
“Habis dari mana Om?” Tanya Angga.
“Jalan-jalan.” Jawab Ayah Keizha. Angga hanya mengangguk.
“Kamu.. Kenapa kok pucat sekali nak Angga?” Tanya Ayah Keizha heran.
“Saya memang sakit. Namun hanya sementara..” sudah 2 kali Angga berbohong tentang keadaannya.
“Om, apa nggak ada donor mata buat Keizha?”
“Dulu ada. Namun sekarang tidak ada. Maklum nak Angga, kami tidak mampu. Untuk membayar sekolah Andin saja sudah susah..” jelas Ayah Keizha.
“Oh.. Gini Om, teman saya adalah Dokter mata. Dia teman baik saya. Kalau Om mau, saya bisa membantu Keizha untuk mendapatkan donor mata dengan hanya sedikit biaya.”
Ayah Keizha mengerutkan keningnya. “Kamu tidak bercanda kan?”
Angga menggeleng lalu tersenyum. “Tentu saja saya serius.” Jawab Angga.
“Tapi.. Saya..”
“Saya yang akan membayar semua biaya. Saya ikhlas Om.. Karena saya mencintai Keizha..”
Angga bahagia ketika melihat senyum Keizha saat di beri tahu tentang kabar gembira ini. Tak lupa dia terus berterima kasih pada Angga.
“Sebentar, saya mau telpon teman Dokter saya dulu..” kata Angga. Lalu Angga keluar dan menelepon temannya itu. Tampak raut muka kecewa di wajah Angga saat Angga kembali. Namun sebisa mungkin dia merubahnya menjadi senyuman saat dia bilang bahwa operasinya akan berjalan bulan depan. Keizha langsung memeluk Angga. Dia menangis di bahu Angga. Meluapkan segala rasa bahagianya. Walau Keizha takut, namun dia percaya bahwa semua akan di lewati karna Angga ada di sampingnya.
#
“Ma, Pa, Angga mau ngomong.” Kata Angga saat Ia baru sampai di rumah.
“Ada apa sayang?” Tanya Mama Angga.
Angga sejenak menutup matanya dan menghirup nafas panjang.
“Ma, Pa, kalau anak kalian ini melakukan suatu perbuatan baik, apa kalian akan setuju?” Tanya Angga sedikit takut.
“Tentu sayang, kalau bisa, buat dia bahagia.” Jawab Papa Angga sambil tersenyum.
“Tapi, apa Papa dan Mama akan setuju kalau aku..” Angga sengaja berhenti bicara.
“Ada apa sih? Kok serius banget?” Tanya Mama Angga. Angga menarik nafas dalam lagi.
“Angga mau donorin mata Angga buatseseorang.” Angga memberanikan diri untuk mengucapkannya. Papa dan Mama terkejut.
“Angga, apa yang kamu pikirkan?” Tanya Papa Angga sedikit emosi.
“Pa, aku pengen buat orang yang aku cintai bahagia. Keizha cinta pertamaku. Aku pernah berjanji untuk selalu ada di sampingnya, namun nyatanya aku tidak akan bisa! Hanya ini yang bisa aku lakukan.” Jelas Angga.
Telapak tangan Papa Angga sudah terangkat keatas hendak menampar Pipi Angga namun segera berhenti ketika Mama Angga menahannya.
“Papa!” teriak Mama Angga.
“Apa kamu pikir mata kamu tidak berharaga? Apa kamu pikir mata kamu bisa di beli dengan uang??!” Tanya Papa Angga.
“Tampar Pa! Tamparlah aku! Aku hanya ingin menepati janjiku. Janjiku yang takkan pernah bisa ku penuhi.” Ujar Angga. Angga kemudian berlutut di depan kaki Papanya yang telah menjadi sosok terbaik dalam hidupnya, yang dia jadikan motivasi untuk memberinya semangat maju.
“Setidaknya ini bukti cintaku padanya.” Tambah Angga.
Papa Angga sedikit luluh. Dia duduk di kursi di belakangnya. Dia menenangkan diri di samping istrinya.
“Pa.. Mungkin sekarang hidup Angga tak lama. Angga tidak akan bisa bahagia. Namun Angga senang jika Keizha bahagia.” Kata Angga lembut.
Papa Angga tetap terdiam. Dia memalingkan mukanya menghadap ke jendela.
“Keizha.. Perempuan seperti apa dia yang sangat kamu cintai dan rela kau memberikan matamu untuknya??” Tanya Papa Angga.
Angga tersenyum. Dia mengingat-ingat kembali kisahnya dengan Keizha.
“Anak yang baik, lucu, dan sangat sopan. Dia mampu selalu membuat aku tersenyum saat dekat denganya walau dia tidak melakukan apapun. Dia sangat berharga Pa..” Angga memegang tangan Papanya. Berusaha meyakinkan bahwa Keizha adalah perempuan terbaik yang pernah Ia temui.
“Seminggu sebelum waktu yang telah di tentukan oleh Dokter tentang perkiraan kematianku, aku akan menyerahkan mataku ini sebagai donor sukarelawan untuknya. Aku mohon Papa setuju karena ini permintaan terakhirku. Meskipun bila nanti akhirnya aku bisa selamat dari maut, aku tetap akan mendonorkan mataku. Agar dapat menjadi cahaya yang selalu menerangi kegelapannya.” Ujar Angga. Papa Angga menatap lalu memeluknya di susul juga dengan pelukan Istrinya.
#
1 BULAN KEMUDIAN
Keadaan Angga semakin memburuk. Pandangannya semakin memburam. Namun dia tetap setia untuk mengantar Keizha operasi. Dia ingin Keizha mendapatkan semua impiannya. Dia ingin Keizha mendapatkan ‘cahaya’.
“Ngga.. kamu bakal tetap ada disini kan?” Tanya Keizha saat Keizha akan memasuki ruang operasi.
“Iya. Aku akan slalu menemani kamu. Bahkan aku yang akan pertama kali kamu lihat saat kamu membuka mata.” Ujar Angga. Keizha hanya tersenyum. Lalu Keizha masuk ke ruang operasi di temani degan Ayahnya.
“Loe bener mau melakukan semua ini?” Tanya Ivan. Teman Dokternya sambil memakai sarung tangannya.
Angga mengangguk mantap. “Hidupku nggak lama. Setidaknya aku mau membuat Keizha bahagia.” Jawab Angga.
“Gue bangga ama loe, Ngga!” Ivan memeluk temannya itu.
“Sebelumnya gue mau bilang trimakasih ke elo!” ujar Angga. “Tapi Van, gue mohon, jika Keizha membuka matanya, dan nyari gue, tolong loe jawab kalau gue telah berkhianat. kalo gue udah punya tunangan. Tapi, loe bilang ke keluarga Keizha yang sesungguhnya. Dan ini semua harus di rahasiakan dari Keizha.”
“Ta, tapi..”
“Plis Van.. Gue nggak mau Keizha tahu yang sebenarnya.”
Ivan memeluk Angga lagi. Lalu tersenyum dan menganggguk.
#
Operasi Keizha memakan waktu 2 jam. Namun saat operasi selesai, Keizha masih tak sadarkan diri. Hampir 2 hari Keizha berbaring di tempat tidur rumah sakit. Di tunggu dengan Andin dan Ayahnya.
“Yah..” panggil Keizha tiba-tiba. Ayah Keizha dan Andin yang duduk di sampingnya terkejut dan menatap putrinya yang masih memejamkan mata.
“Dok! Dokter!” teriak Ayah Keizha.
Beberapa detik kemudian, Suster dan Dokter Ivan membuka pintu kamar Keizha.
“Dok.. Keizha sudah sadar..” kata Ayah Keizha senang.
“Kak..” panggil Andin.
“Keizha, buka mata kamu pelan-pelan..” kata Dokter Ivan.
Keizha membuka matanya perlahan seperti intruksi dari Dokter Ivan. “sakit Dok..”
“Iya.. memang begini. Ini karna kamu belum terbiasa kena cahaya.”
Keizha mengerjap-ngerjapkan matanya. Lalu dia bisa melihat hanya bayangan, kemudian sedikit buram. Dia mengerjapkan matanya lagi. Dan kini dia mampu melihat semuanya. Melihat sekelilingnya. Meski masih terasa sakit.
“A..yah.. Andin..” panggil Keizha sambil menatap keluarganya itu. Ayah Keizha dan Andin memeluknya.
“Selamat..” kata Dokter Ivan sambil tersenyum ke Ayah Keizha. Mereka segera berterimakasih kepada Dokter Ivan.
Keizha sangat bahagia. Akhirnya dia mendapatkan yang dia mau. “Yah.. Angga mana?” Tanya Keizha tidak sabar. Semua senyum yang tadinya merekah di semua wajah, kini hilang. Semuanya terdiam. Dokter Ivan tidak bisa menjelaskannya. Dia merasa kasihan bila harus melihat hilangnya kebahagiaan di wajah Keizha. Namun dia memang harus menjelaskannya. Sesuai sumpahnya kepada Angga.
Lalu Dokter Ivan pun menceritakan semua cerita yang sudah di karang oleh Angga.
“Nggak mungkin.. ini semua nggak mungkin! Yah.. ini semua Cuma gurauan kan? Angga ada di sini kan?” Tanya Keizha. Ayah Keizha menggeleng dan memeluk Andin yang menangis di sisinya.
“Dok, di mana Angga sekarang? Apa Angga bersembunyi agar dia bisa memberikan kejutan padaku??” Dokter Ivan merasa iba saat melihat Keizha yang tidak mempercayainya.
“Keizha.. kamu harus bisa menerima kenyataan!”kata Ayah Keizha.
“Ini semua bohong!” seru Keizha.
“Kak..” Andin menatap kakaknya yang meneteskan air matanya.
“Andin.. di mana Angga sekarang?” namun Andin hanya menangis.Dokter Ivan mengeluarkan surat dari sakunya dan memberikannya pada Keizha. Keizha membaca isi surat itu.
Zha..
Maafkan aku.
Aku tidak bisa menepati janjiku.
Aku tidak ada di depan kamu saat kamu bisa melihat.
Bukan aku tidak mau.
Aku hanya tidak bisa.
Semoga kamu mengerti apa maksudku.
Angga.
Keizha meremas surat kecil itu lalu melemparnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Dia menyesal mau menerima bantuan ini. Karna bagi dia, semua kehidupannya tetap menjadi gelap jika Angga tidak ada di sisinya.
#
1 minggu kemudian
Keizha memutuskan untuk melupakan semua tentang Angga. Dia menganggap Angga tak lebih dari seorang penghianat. Hari ini semua kenangan ingin Keizha lupakan. Semuanya. Tentang Angga, dan tentang perasaan konyolnya. Keizha dan Andin jalan-jalan ke Taman dekat rumahnya. Dia ingin membiasakan matanya.
“Disinikah pertemuan pertamaku dengan Angga?” Tanya Keizha dalam hati sambil memerhatikan keadaan Taman. Andin yang seperti tahu pikiran Kakaknya itu, menggenggam tangan Keizha erat-erat.
“Ndin!!” panggil seseorang. Keizha dan Andin meoleh ke asal suara itu. Ternyata Intan, teman Andin yang memanggilnya.
“Kak, aku ke temen Andin dulu ya..” kata Andin. Keizha hanya mengangguk. Lalu Andin berlari ke arah temannya dan berbincang-bincang dengannya.
Keizha menatap sekitarnya. Namun pandangannya jatuh pada seorang lelaki gundul memakai kacamata hitam dan sedang duduk sendiri dengan anjingnya di salah satu tempat duduk Taman. Keizha mengamatinya. Keizha ingin mendekatinya. Karna Keizha merasa kenal dengannya.
“Kak! Yuk jalan-jalan lagi!” seru Andin dari belakang.
“I, iya..” merekapun kembali berjalan. Sejenak Keizha biarkan dirinya menoleh dan Laki-Laki itu tetap duduk di sana
2 BULAN KEMUDIAN
“Kak.. Di cari ama orang.” Kata Andin sambil menggoyang-goyangkan tubuh Keizha yang berbaring di tempat tidur.
“Siapa?” Tanya Keizha sambil mengusap-usap matanya.
“Nggak tau.. cewek ama cowok. Kayaknya umurnya udah 30an gitu. Kelihatannya juga orang kaya. Di depan juga ada mobil warna item.” Jawab Andin. Keizha mengerutkan keningnya lalu turun dari tempat tidur dan segera menemui tamunya itu.
Betul saja, dari penampilannya sangat menunjukkan bahwa mereka adalah orang kaya.
“Maaf.. Anda siapa?” Tanya Keizha mencoba sopan. Meskipun Keizha sekolah hanya sebentar, dia tetap di ajarkan sopan santun dan etika oleh Ayahnya.
“Kamu Keizha?” Tanya balik si perempuan.
“I, iya.. Anda??”
“Boleh saya masuk?” Keizha beru sadar bahwa dia belum menyuruh mereka masuk dan duduk.
“Silahkan..” jawab Keizha. Mereka semua masuk dan duduk di kursi di ruang tamu.
“Kami orang tua dari Angga.” Mendengar kata Angga, Keizha sedikit terkejut.
“Kami ingin memberitahukan sesuatu. Angga sudah tidak ada. Dia sudah tenang di alam sana.”
“Maksud anda?” Tanya Keizha bingung.
“Apakah kamu tidak tahu tentang penyakit Angga?” Tanya Mama Angga. Keizha menggeleng.
“Angga menderita Kanker otak. Apa kamu juga tidak tahu siapa yang memberi kamu mata itu?” Tanya Mama Keizha lagi.
“Memangnya dari siapa?” Tanya Keizha lebih bingung.
Saat Mama Angga akan menjawabnya, Papa Angga memegang tangan isterinya itu.
“Ingat kata Angga Ma. Biarkan dia sendiri yang tahu.” Kata Papa Angga dan Ia menyerahkan sebuah amplop berwarna merah muda kepada Keizha.
“Apa ini?” Tanya Keizha.
“Dari Angga.” Kata Mama Angga sambil tersenyum ramah.
Keizha membukanya. Dan ternyata isinya adalah secarik kertas dan beberapa lembar foto.
Keiz..
Aku pernah berkata bahwa aku ingin menjadi penerang kegelapanmu.
Yah. Dan sekarang tataplah ke kaca. Kamu akan melihat bintang di matamu.
Kamu adalah bulanku.
Dan aku adalah bintangmu. Yang senantiasa menerangimu.
Maafkan aku yang telah berbohong. Sebenarnya aku sakit kangker otak.
Dan dengan sengaja aku menyuruh Dokter Ivan untuk berbohong bahwa aku sudah punya tunangan.
Karena aku tidak bisa melihat senyuman bahagiamu hilang saat kamu tahu penyakitku.
Satu lagi Zha, MATAMU ADALAH MATAKU.
Simpanlah foto ini sebagai kenangan kita.
“Kita adalah Bulan dan Bintang. Meski tahu bahwa kita takkan bisa bersama, mereka tetap setia untuk menerangi dunia dari gelapnya malam.”
BULAN.
Setetes air mata jatuh ke pipi Keizha saat Dia melipat kembali suratnya. Keizha lalu menatap foto-foto Angga. Foto-foto itu mampu membangkitkan semua kenangan yang telah Keizha kubur. Foto saat dia sedang ke Taman Angsa. Senyum Angga adalah sesuatu yang sangat ingin Keizha lihat. Air mata jatuh semakin deras saat dia melihat sesuatu terselip di dalam surat. Dia melihat kalung yang berkilauan. Mirip dengan kalung yang dia pakai. Bulan di dalam Bintang.
“Tapi.. Maksud dari, ‘MATAMU ADALAH MATAKU’?” Tanya Keizha pada orang tua Angga.
“Kak Angga mendonorkan matanya untuk kamu Kak.” Jawab Andin sambil terisak dari belakang Keizha.
“A, andin??”
“Kak, selama ini Kak Angga tuh baik banget. Dia yang menebus sekolah Andin!” seru Andin.
“Tapi kamu tidak boleh asal bicara tentang donor mata ini.” Ujar Keizha.
“Nak, apa yang dikatakannya, itu semua benar. Angga yang mendonorkan matanya untukmu.” Tambah Papa Angga.
Keizha sangat terkejut. Keizha teringat oleh laki-laki gundul yang kemarin dilihatnya ditaman. “Apa itu, Angga??” tanyanya dalam hati.
Namun belum sempat pertanyaan itu terjawab, semua menjadi kabur. Keizha terjatuh. Lalu tidak sadarkan diri. Hanya teriakan dari Andin yang terakhir dia dengar.
#
Keizha berjongkok di samping kanan tanah yang menyimpan jasad Angga. Sudah hampir 15 menit Keizha menatap kuburan Angga.
“Ngga.. thanks ya buat mata ini. Ini akan menjadi permata yang akan kupertaruhkan dengan nyawaku.” Bisik Keizha sambil memegang batu nisan yang bertulisan nama lengkap Angga.
Keizha tersenyum. Meski dia mengikhlaskan Angga, namun dia tetap menginginkan bahwa ini semua adalah mimpi. Dia ingin terbangun dari mimpi ini dan dapat merasakan kehangatan yang terpancar dari Angga. Meski dia takkan pernah bisa melihat.
Namun tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang pundaknya. Keizha menoleh dan mendapati Papa Mama Angga, Andiin, dan juga Ayahnya yang berdiri di belakangnya.
“Keizha.. Kami juga merasa kehilangan. Sama seperti kamu.” Kata Mama Keizha sambil tersenyum.
“Iya Keizha. Namun kita semua sudah merelakannya.” Tambah Papa Angga. Air mata menetes dari mata Andin.
“Rumah kami cukup besar. Di sana hanya akan ada Saya, Istri saya, dan pembantu. Akan terasa sepi tanpa kehadiran seorang anak.” Papa Angga tersenyum sangat lembut.
“Saya ingin mengangkat kamu dan Andin, sebagai anak kami. Apa kamu mau?” Tanya Papa Angga.
Andin dan Keizha terkejut. Mereka menoleh kearah Ayahnya. Ayah mereka hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
“Saya sudah bicara kepada Ayah kamu. Dan dia mengijinkan jika kamu mau. Jika kamu tidak mau, kami tidak memaksa.”
“Ikutlah Nak..” kata Ayah Keizha.
“Keizha dan Andin mengangguk bersamaan lalu memeluk Ayahnya. Dan juga Orang Tuanya yang baru.
“Saya juga sedang mencari orang untuk pekerjaan di perusahaan saya yang kosong. Apa Bapak mau mangisi posisi itu?” tawar Papa Angga ke Ayah Keizha.
“Te, tentu saja Pak!” jawab Ayah Keizha sambil terisak.
Kini semuanya lengkap. Semuanya telah berbahagia.
“Semua telah berubah. Karena kehadiranmu, Ngga. Thanks. Aku pasti bakal slalu jaga orang tuamu seperti orang tuaku sendiri. Aku sayang sama kamu, cahaya bintangku.” Bisik Keizha di samping batu nisan Angga.
THE END
