Powered By Blogger

Sabtu, 19 November 2011

KEEP MY LOVE

“sorrii… gue telat yah??” tanyaku saat baru masuk ke rumah Andin.
“telat banget tau! Perjanjiannya kan jam enam! Sekarang jam brapa nii?? Udah hampir jam 7!” jawab Moza dengan wajah yang menyebalkan.
“gue kan udah bilang sorii!” seruku tidak mau kalah.
“udah udah! Ni mau belajar atau berantem sih??” Andin mencoba menengahi pertengkaran ini.
Aku pun bergabung dengan mereka dan memilih duduk dekat dengan Andin dan segera mengerjakan tugas yang di berikan oleh pak Anto. Aku, Andin dan Moza memang sudah bersahabat sejak baru masuk SMA. Dan sekarang kami bertiga duduk di kelas 2 SMA di kelas yang sama. Aku, Mourice Tanuwijaya, yang biasa dipanggil Uris, mempunyai sifat yang kekanak-kanakkan dan penakut. Anak- anak lain juga banyak yang bilang kalau aku tomboy. Jika Andin, dia anaknya pintar, dan juga lucu. Saat aku ada pertengkaran dengan Moza, Andin selalu menjadi penengah. Sedangkan Moza, semua kata-kata yang terucap dari mulutnya hampir keseluruhan kata-kata yang pedas. Namun kata Andin, Moza adalah anak yang baik.
“yes!! Akhirnya selesai juga!” seruku.
“iya.. ternyata nggak seberapa sulit asal kita ngerti.” tambah Andin.
“iya.. ya udah, gue pulang duluan ya.. udah jam 8 nih..” ujar Moza.
“gue juga!”
“loe pulang naek apa ris? Bukannya loe tadi bilang kalo Mama Papa loe lagi di Jerman? Kak Adit ama Kak Viktor juga pergi.. emang loe pulang mo naek apa?” Tanya Andin. Aku pun teringat bahwa pak Eko, supir keluargaku sedang pulang kampung.
“jalan kayaknya. Kan nggak seberapa jauh..” jawabku.
“nggak takut? Nih kan udah malem..” kata Andin.
“biarin aja.. dia kan sok berani..” ejek Moza. Aku hanya melotot.
“ya udah.. gue pulang dulu ya!” pamitku.
Aku pun segera berjalan pulang.

-----II-----

“loe harus berani! Harus berani!” ucapku saat aku mulai jalan di jalanan yang sepi. Aku jadi teringat semua film horror yang pernah ku tonton. Hampir saja aku menangis karna ketakutan.
Kresek-kresek…
Kresek-kresek…
seperti ada yang membuntuti aku dari belakang.
“copet?” tanyanya dalam hati.
Aku pun segera mempercepat langkahku.
Semakin lama semakin terdengar suara langkah kaki seseorang selain aku. Semakin dekat..
“aaahh!!!!!” teriakku saat ada tangan yang memegang pundakku. Aku meronta-ronta dan mencoba melepaskan tangan itu dari pundakku.
“sssstt.. hey! Tenang!! Ni gue! Moza!!” seru orang itu.
Aku pun mengintip dari celah tangan yang menutupi wajahku. Dan ternyata orang itu memang Moza.
Lalu Moza pun tertawa terbahak –bahak.
“katanya loe berani??” Ejek Moza.
“Nga, ngapain loe disini?” tanyaku.
“nemenin loe pulang. Yukk..” ajak Moza sambil menggandeng tanganku. Mukaku pun menjadi merah.
“ada apa?” Tanya Moza saat dia menyadari perubahan warna di wajahku.
Aku hanya terdiam. Lalu tiba-tiba Moza melepaskan pegangan tangannya.
“ya udah kalo nggak mau gue temenin.. gue pulang nih..” goda Moza.
Aku tetap terdiam sambil tertunduk. Air mata mulai menetes satu persatu ke pipiku.
“loe, loe kenapa? Sssttt.. jangan nangis! Nanti orang-orang ngira loe gue apa-apain..” Tanya Moza.
“gu, gue.. gue takut..” jawabku.
Moza hanya menghembuskan nafas panjang.
“loe pegang aja tangan gue. Ya tapi kalo loe gak mau juga ga..” belum selesai perkataan Moza, aku keburu menggandeng tangannya.
“gue mau kok..”
Moza hanya tersenyum. Aku sedikit terkejut melihat senyumnya. Senyum yang biasa dia gunakan adalah senyum penuh dengan kejailan. Namun senyum kali ini berbeda. Meskipun aku tidak tau apa perbedaannya.
“kalo loe masih takut, jangan jauh-jauh dari gue.” Ujar Moza. Aku hanya mengangguk.
Di perjalanan, Moza menceritakan kisah masa kecilnya yang lucu-lucu. Saat dia jatuh dari sepeda, saat dia di kejar anjing tetangganya, semuanya membuatku tertawa. Aku menjadi tidak takut lagi.
Malam ini dingin sekali. “seharusnya gue pakai jaket kayak Moza!” pikirku.
“hatchii…!!” kini aku merasa kena flu.
“loe sakit?” Tanya Moza.
“nggak kok.. Cuma flu aja.. dingin..” jawabku sambil tetap tersenyum.
“huufft.. loe tu orangnya sok banget yah..?? udah tau sakit malah sok kuat..” lagi-lagi kata-kata pedas dari mulutnya.
Aku hanya diam.
“hatchiii..!!”
“hatchii..!!”
Moza pun melepas jaket yang dipakainya dan memberikannya kepadaku.
“ni pake.. lain kali jangan lupa pake jaket..” ujar Moza.
Aku hanya menatapnya.
“nggak deh.. kamu aja yang pakai..” tolakku.
Moza lagi-lagi tersenyum dan memasangkan jaketnya ke pundakku.
“cowo lebih kuat dari cewe..” katanya dengan halus. Aku terdiam. Jalanku seketika berhenti. Aku merasa aneh. Aku merasa melayang saat kata-kata itu terucap dari mulutnya.
Aku dan Moza pun melanjutkan sisa perjalanan hanya dengan diam.
“apa ini? Ada apa dengan hatiku? Mengapa jantungku terus berdegup dengan kencang?” tanyaku dalam hati.
“hey.. ni rumah loe kan?” Tanya Moza sambil menunjuk rumah yang baru kita lewati.
“iya!” jawabku. Aku pun sadar bahwa aku sudah melewati satu rumah dari rumahku.
“ya udah kalo gitu gue pulang dulu.” Kata Moza.
“ehm, I,iya..”
Moza pun mulai berlalu.
“eh, jaket loe..” aku melepas jaket Moza.
“loe bawa dulu aja. Mungkin loe masih butuh..”
“ta, tapii..”
“udahlah! Daaa…!” Moza berlari pergi.
“Za!!” panggilku.
Sejenak Moza menoleh.
“Thanks ya!” seruku. Moza hanya tersenyum, melambai, lalu pergi.
Aku segera masuk kekamarku dan membaringkan tubuh di atas tempat tidurku yang empuk. Memeluk jaket yang masih ada di tanganku.
“bau parfum Moza..” bisikku saat aku mencium jaketnya.
Aku memutuskan untuk menelpon Andin.
“halo, dengan Andin. Ini siapa?”
“Gue Uris.”
“oh, ada apa ris? Tumben telpon gue?”
“ya nggak papa.. mmh.. ris, gue mau nanya-nanya tentang Moza.. Moza tu anaknya gimana?” tanyaku malu-malu.
“eh, emang kenapa? Loe suka ama Moza?”
“emmh.. nggak tau.. gue rasa sih..”
“eh ris, gue mau pergi. Besok dilanjutin bias kan?”
“ya uda kalo gitu.. bye..”
KLIK.
Andin menutup telponnya.
Aku merasa aneh. Aku hanya bisa tersenyum sendiri.
“Diary!” seruku tiba-tiba.
Aku langsung bangun dari tempat tidurku dan mengambil Buku Diaryku yang bersampul biru di meja.
Aku pun mulai menulis.

Dear Deary,
Hari ini aku ngerasa ada yang beda dari Moza.
Senyumnya, tatapannya, semua terasa berbeda.
Dulu yang aku tau,
hanya ucapan pedas yang keluar dari mulutnya.
Walau aku hanya mempunyai 30 menit untuk bersamanya,
aku tetap bersyukur.
Aku tidak tau perasaan apa ini,,
namun, biarkanlah begini..

Entah kenapa, malam itu aku ingin cepat tidur agar besok dapat segera bertemu dengan Moza.
Malam itu aku bermimpi bertemu dengan seseorang. Seseorang itu memancarkan sinar. Sinar yang sangat terang.

-----II-----

Pagi itu aku masuk sekolah dengan wajah yang gembira. Di sekolah sudah ada Andin dengan membawa buku. Namun Moza tidak terhilat.
“Ris, Moza lagi sakit.” Kata Andin yang seperti bias membaca pikiranku.
“sakit apa?” tanyaku sambil menaruh tas di atas meja.
“nggak tau.. nanti kamu bisa ikut aku jenguk Moza? Tadi aku udah di telpon ama Mamanya Moza. Mamanya lagi ada janji ama rekan kerjanya. Gue di suruh jagain Moza. Loe mau ikut kan?”
Aku tau dari tatapan Andin yang seperti memasaksa aku untuk mengatakan iya.
“oke..” jawabku.

KRING.. KRING.. telepon rumahku berbunyi saat aku baru saja selesai sarapan. Aku membiarkannya berbunyi. Toh nanti jika Bi Sumi mendengar, pasti akan di jawab. Namun telepon itu berbunyi terus. “mungkin Bi Sumi tidak mendengarkannya.” Pikirku. Aku segera menuju ke arah telepon dan mengangkat gagang teleponnya.
“halo?”
“eh, ini Uris? Ris, sori gue nggak bisa jagain Moza..” kata Andin, tampak gelisah.
“trus?” tanyaku bingung. “emang ada hubungan apa ama gue?” tanyaku dalam hati.
“mamanya udah terlanjur keluar. Gue nggak bisa njagain karna gue mau pergi ke Nenek gue.” Jawab Andin. “bisa nggak loe jagain dia sendiri?” tambahnya.
“hah??”
“oke.. ya udah.. tolong jagain ya! Kata mamanya dia belum makan.. see you..!” KLIK. Andin menutup teleponnya.

“huekk.. loe masak apaan sih? Asin banget..” Tanya Moza.
“ini Nasi goreng!” jawabku sebal.
“Nasi goreng kok warnanya tetep putih.. seharusnya tu merah.. asin, juga..”
“cerewet banget sih loe! Sukur-sukur gue udah mau masakin buat loe.. ni.. makan aja sendiri!” kataku sambil menyodorkan piring yang berisi nasi goreng.
“oke.. gue juga bisa kok makan sendiri.. emang sapa yang nyuruh loe masak?” Tanya Moza menyebalkan.
“udahlah! Kalo emang loe isa sendiri, gue pulang aja!” seruku. Emosiku sudah tidak terkendali. Aku mengambil tasku dan bergegas pulang. Namun Moza menarik tanganku.
“iya.. iya.. sori.. gue minta maap..” kata Moza.
Aku duduk kembali dengan muka sok ngambek.
“oke.. sekarang gue janji bakal makan ini habis bersih. Tapi loe jangan pulang.” Ujar Moza.
Aku hanya tersenyum.





“Gue sayang ama loe..” kata Moza serius saat aku dan dia istirahat berdua.
Hatiku serasa berbunga mekar. “mak, maksud loe? Loe udah gila ya?” tanyaku pura-pura bego.
Moza hanya tertawa.
“hhmmm.. bagus gak ekspresi gue tadi??” Tanya Moza. Aku hanya bengong.
“ja, jadii.. tadi cuma…”
“he..he.. loe jangan bilang sapa-sapa yah..” bisik Moza. Aku cepat-cepat mengangguk.
“gue mau nembak Andin.” Kata Moza sambil tersenyum
Hatiku terasa hancur. Aku tanpa bisa menjawab apa-apa hanya bisa terdiam.
“gimana? Ekspresi loe tadi.. sama nggak yah ama ekspresi Andin nanti??” Tanya Moza sambil tersenyum.
Sekali lagi aku hanya terdiam. Aku tidak tau harus bicara apa. Aku merasa mulut ini terkunci sangat rapat.
Sampai akhirnya bel tanda masuk kelas berbunyi.
Entah apa yang aku pikirkan. Aku merasa bahwa hari ini aku menjadi kacau.

“loe kenapa sih?” Tanya Andin saat istirahat.
“nggak tau.. lagi ga mood aja.” Jawabku singkat.
“loe tu kayak orang patah hati aja..”
“patah hati? Apa aku memang patah hati? Apa aku cemburu? Mourice!! Apa yang loe pikirin???!!” bisikku dalam hati.
Aku hanya diam. Dan Andin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“hey plend! Gue dapet berita bagus!” seru Moza yang datang dari belakang.
“berita apa’an?” Tanya Andin, ingin tau.
“beritanya tu..” Moza mencoba menceritakan. Tapi aku segera pergi dari hadapan Moza. Meninggalkan mereka yang bingung dengan sikapku yang tidak seperti biasanya.

Saat pelajaran pun aku tetap diam. Bahkan aku berpindah ke tempat duduk yang kosong. Padahal aku duduk dengan Andin. Menutup mulut rapat-rapat. Tiba-tiba secarik kertas terlempar ke arahku. Aku menoleh. 4 bangku dari bangkuku, terlihat Moza menatapku dan menunjuk-nunjuk dirinya. Aku membuka surat itu dan membacanya.
“loe kenapa?” itulah isi dari surat itu.
Aku tidak membalasnya. Aku meremasnya dan membuangnya pada kolong meja. Tidak lama kemudian, ada surat lagi yang mendarat tepat pada depanku. Aku melihat 2 tempat dar sisi kiriku, Andin sedang menatapku.
“loe hari ini kok aneh banget sih?” ternyata memang benar surat itu dari Andin karna tulisannya sangatlah rapi.
Aku tetap tidak membalasnya.

Aku segera keluar dari kelas saat aku melihat Andin sudah di jemput.
“Loe tu kenapa sih? Tiba- tiba ngambek nggak jelas.” Tanya Moza dari belakangku. Aku terkejut.
Aku mencoba menghindar darinya. Namun Moza memegang tanganku.
“lepasin gue!” seruku.
“gue ga bakal ngelepasin sebelum loe bilang yang sebenernya!” seru Moza.
Aku tetap mencoba melepaskan tangan Moza dari tanganku. Namun pegangan tangan Moza semakin di pererat.
“Mau loe tu apa sih?” tanyaku.
“gue pingin loe jujur! Cuma itu!!” seru Moza dengan emosi yang tinggi.
“loe kepingin gue bilang apa? Kenapa sih loe tu ga pernah peduliin orang laen?? Kenapa loe tu nggak pernah mau tau perasaan orang laen?”
“apa yang salah dari gue?? Apa??” Tanya Moza.
“apa loe nggak nyadar ama kesalahan loe?? Apa loe ga punya pikiran karna kesalahan loe?”
Moza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“udah! Sekarang terserah ama loe! Gue nggak peduli lagi tentang loe! Gue nggak peduli apa mau loe! Loe tu Cuma bawa repot ke gue!!” teriak Moza lalu pergi meninggalkan aku yang meneteskan air mata.
-----II-----

Sesampainya dirumah, aku membuka kembali buku Diaryku.
Dan meluapkan emosiku disana.

Dear,
ternyata aku memang tidak berhak untuk memiliki dia.
Aku tahu aku tidak sesempurna Andin.
Aku sadari semua kekuranganku.
Namun hati ini telah lelah.
Mengapa cinta datang jika hanya membuatku sakit hati?
Lebih baik aku tidak mempunyai rasa ini!
Tuhan, tolong bantu aku.
Hilangkan rasa ini.
Atau hilangkan aku di hadapan mereka!!
Aku baru menyadarinya. Aku memang menyayangi Moza. Namun dia mencintai sahabatku. Kenapa aku memiliki perasaan ini? Apa yang harus aku lakukan?? Aku membenamkam diri di bantalku. Air mata mulai membasahi bantal. Aku ingin melupakan semuanya. Aku harus melupakan cinta, dan juga sahabatku. Aku harus pergi. Pergi jauh.
“ma, pa..” panggilku sambil berjalan ke arah mereka yang sedang duduk di sofa depan televisi.
“ada apa sayang?” Tanya Papa.
“aku ingin pindah ke rumah Oma di Amerika.”


Selama 4 hari aku tidak masuk sekolah. Aku merasa malas. Aku tidak ingin bertemu dengan Moza ataupun Andin. Aku ingin sendiri.

-----II-----

1 minggu kemudian, yaitu hari ini, adalah jadwal keberangkatanku ke Amerika. Awalnya keinginanku untuk pindah ditentang oleh Papa dan Mamaku. Namun karna mereka kalah dengan semua pembelaanku, akhirnya mereka memperbolehkan dan berjanji mengantarkan aku pindah ke Jakarta.

“Uris, apa kamu yakin ama semua ini?” Tanya Mama saat aku memberesi barang-barangku di kamar.
Aku hanya mengangguk.
Mama tersenyum lalu duduk disampingku.
“Kalau kamu ingin pindah hanya karna ada masalah, kamu pasti akan menyesal. Mungkin pertama memang sakit, namun kamu kan anak mama. Jadi harus kuat. Kuat menghadapi apapun. Mama nggak akan maksa kamu buat tetap tinggal. Mama Cuma ingin yang terbaik buat kamu. Ngerti kan nak?” jelas Mama. Aku hanya terdiam. Aku kembali mengingat kenangan-kenangan yang dulu aku kumpulkan. Lalu aku tersenyum pada Mama. Dan Mama hanya mengusap rambutku, lalu pergi.
Aku segera mengeluarkan jaket Moza dari lemariku. Memeluknya. Dan menciumnya.
Sebelum aku berangkat ke Bandara, aku menyempatkan diri untuk ke kebun belakang rumah. Untuk mengenang kejadian di rumah ini.
Aku duduk di kursi kesayangan Papa.
Aku membuka buku diaryku lagi dan menulis,

Diary,
jujur, aku nggak ingin kehilangan dia.
Aku tidak ingin berpisah darinya.
Aku mencintainya!
Lebih dari apapun!
Aku baru menyadarinya!
Karna saat dekat dengannya,
bahagia mengetuk pintu hati.
My dear diary,
apakah aku akan benar-benar kehilangan dia untuk selamanya?
Apakah ini keputusan yang terbaik?
God, please help me..!

Aku mencoba mengingat sedikit demi sedikit kenangan-kenangan bersama Moza. Kadang aku tersenyum saat mengingat Moza yang terjatuh ke selokan saat belajar sepeda motor. Moza sampai sekarang pun tidak bisa naik sepeda motor. Aku memang haru melupakan Moza.
“Ris.. ayo berangkat..” kata mama membuyarkan lamunanku.
“iya ma..” jawabku.

Tepat pukul 10 siang aku sampai di bandara. Papa yang mengantar aku sampai ke Amerika. Pesawat yang akan aku tumpangi akan berangkat 15 menit lagi. Aku berpamitan kepada Mama dan Kakak-kakakku. Tanpa sengaja aku mendengar lagu yang sedang di putar oleh kakakku.
tiap kali, aku berlutut, aku berdoa.. suatu saat, kau bisa cinta padaku.. tiap kali, aku memanggil, di dalam hati.. mana sunny, mana sunnyku.. mana sunnyku..
“lagu ini..” aku berpikir dalam hati. Aku merasa lagu ini sangat ada hubungannya denganku.
“Maurice!!” panggil seseorang. Aku menoleh. Ternyata Moza memanggilku dari jarak yang kurang lebih 20 meter. Dia berlari ke arahku.
“ris.. maafin gue.. plis jangan pergi. Gue..” katanya sambil mencoba mengatur nafasnya.
“Za, ini keputusan gue. Gue nggak bisa tinggal di sini. Gue kangen ama Oma gue.” Ujarku. Moza menarik tanganku dan menenggelamkanku dalam pelukannya.
“apa loe nggak kasian ninggalin gue sendiri??” Tanya Moza. Aku melepas pelukkannya.
“ada Andin. Lagipula loe bisa jaga diri loe sendiri.” Jawabku. Moza memegang tanganku.
“gue nggak bisa jika nggak ada loe.”
“Za, gue harus pergi. Bentar lagi pesawat gue..”
“plis Ris.. nggak ada sahabat gue yang sebaik loe..” aku terkejut mendengarkan ucapan Moza.
“Ris, cepat ambil keputusan. 10 menit lagi pesawat kita akan berangkat.” Kata Papa. Aku mengangguk.
“sori Za.. gue tetep bakal pergi..” kujarku sambil melepas tangannya dari tanganku.
Aku membuka koperku dan mengambil sesuatu.
“ni jaket loe..” ujarku sambil menyerahkan jaket Moza.
Aku berbalik dan menarik koperku ke arah check boarding. Lau aku mendengar seseorang yang sedang bernyanyi. Merdu sekali walau tanpa iringan music.
Whereever you go, whatever you do.. I will be right here waiting for you..” walau hanya sebentar, nyanyian itu sungguh membuat hatiku bergetar. Aku menoleh karna ingin tau siapa yang telah menyanyikannya. Dan ternyata semua orang memandang Moza. “apa, tadi itu yang menyanyikan lagu itu adalah, Moza?” tanyaku dalam hati. Namun Moza seperti membaca isi hatiku saat dia amengangguk dan tersenyum padaku. Akupun membalas senyumannya.
“GUE SAYANG AMA LOE, RIS!! BUKAN ORANG LAEN ATAUPUN ANDIN! GUE SAYANG AMA LOE!!” teriak Moza. Jantungku berdebar cepat sekali. Wajahku panas memerah. Moza menghampiriku. Lalu memelukku.
“biarkan gue membusuk di sini kalo loe ningalin gue..” ujar Moza.
“loe.. bener sayang ama gue?” tanyaku.
“lebih dari siapapun. Gue Cuma sayang ama loe. Gue nggak pingin loe pergi dari sisi gue..”
“tapi.. loe bilang kalo loe sayang ama Andin?”
“gue cuma pura-pura.. waktu itu sebenernya gue emang nembak loe, tapi karna ekspresi loe kayak gitu, gue takut loe nolak gue..” jelas Moza dengan pipi memerah.
Aku hanya terdiam. Aku bingung antara memilih pergi atau tidak. Aku juga menyayangi Moza. Tapi..
“kalo emang loe tetep mau berangkat, gue bakal nunggu loe kok..” kata Moza dengan senyumnya yang lembut.
Aku meneteskan air mataku.
“gue nggak pingin loe nggak jadi berangkat hanya gara-gara gue..” Moza mengusap air mataku.
Aku tersenyum. Baru kali ini aku melihat sisi baik Moza. Senyumnya penuh dengan ketulusan.
“gue bakal nunggu loe slamanya..”
Moza pun berbalik dan menjauh dariku.
Aku melirik Mama dan Papaku yang hanya tersenyum.
“Za!! Gue mau slalu ama loe. Gue mau buat slalu ada di samping loe! Gue juga sayang ama loe!”
Moza menoleh. Tersenyum. Lalu berlari memelukku. Aku merasa semua mata menatap ke arahku. Aku tidak peduli! Aku hanya ingin bersama Moza!

“loe ke bandara naek apa?” tanyaku. Mama dan Papa sudah pulang duluan naik taxi. Dan Moza ingin mengajakku ke suatu tempat.
“naek sepeda..”
“haha??”
“iya.. yuk..”
Aku kira Moza berbohong bahwa dia ke bandara naik sepeda, tapi ternyata benar. Padahal jarak rumah Moza ke bandara cukup jauh.
“Yuk..” ajak Moza sambil naik ke sepeda. Aku pun menurut dan duduk di belakangnya.
“siap?” Tanya Moza.
“oke!”

Di sepanjang jalan, kami bertukar cerita. Kadang serius, kadang juga bercanda. Moza sempat berhenti untuk membelikanku es krim. Kami juga sempat duduk di taman dekat kompleks rumahku.
“Ris..” panggil Moza saat kita duduk di ayunan di taman.
“hem?”
“janji jangan pernah ninggalin gue. Gue nggak mau sendirian..”
“asal loe nggak nyebelin aja..” godaku.
“emang gue nyebelinnya kayak apa sih? Apa nggak malah nggemesin..?” Moza tersenyum lucu. Aku merasa, kadang dia menjadi anak kecil yang manja, kadang juga menjadi seorang yang dewasa.
“eh, gue mau nyanyiin lagu buat loe..” kata Moza. Aku hanya tersenyum.
kaulah yang pertama.. yang memberi arti cinta.. tuk selamanya tetap di hatiku..” Moza menyanyikannya dengan tersenyum. Memegang tanganku.
ingin memelukmu.. mendekap hangat cintamu.. tuk selamanya, ku tetap di hatimu..” tambahku. Kita berdua tersenyum.
“suara loe enak juga..” puji Moza. Aku Cuma tersenyum malu.
Tiba-tiba ada seorang gadis kecil yang berumuran sekitar 7-8 tahun menangis di depan kita.
“kenapa dek..?” Tanya Moza, menghampirinya. Namun tangisan anak itu semakin menjadi.
“eh.. ssstt… eh.. gue kan gak ngapa-ngapain..” kata Moza sambil menoleh padaku. Aku hanya tersenyum. Aku mengambil permen di saku kiriku. Dan mengeluarkan permen coklat. Aku memberikannya kepada anak yang menangis tadi.
“mama kamu di mana?” tanyaku halus saat tangisannya reda.
“aku nggak tau..” kata anak itu polos.
“tadi kesini sama siapa?” tanyaku lagi.
“kakak..”
“mana kakaknya?”
“Lagi beli es buat Ninda.”
“Ninda siapa..?”
“aku..”
“beli es nya dimana?” tanyaku terus.
Anak kecil yang bernama Ninda itu menunjuk sebuah warung di pinggir taman.
“ya udah sekarang ikut kakak ke sana buat nyariin kakak kamu..” ajakku.
Anak itu menggeleng.
“kenapa?” tanyaku.
“aku takut ama anak itu..” jawab Ninda sambil menunjuk Moza. Aku hanya tertawa.
“tenang aja. Kalo dia nakal, tinggal cubit aja..” kataku sambil terus tertawa. Apalagi saat Moza melotot ke arahku. Ninda mencubit perut Moza.
“Aaauuw.. apaan sih???” Tanya Moza.
“kakak jelek!” ejek Ninda. Aku semakin tertawa.
“Ninda!!” panggil seseorang. Ninda menoleh, tersenyum dan berlari kea rah perempuan yang memanggilnya itu. Aku melihat wajah perempuan yang seperti baru berumur 22 tahun itu sangatlahcantik, namun saat Ninda menghampiri perempuan itu dengan senyumannya, perempuan itu malah memukul Ninda di bagian pahanya sebanyak 3 kali. Aku melihat Ninda yang hampir menangis. Aku merasa kasihan.
Tanpa aku sadari Moza sudah menghampiri perempuan itu.
“hey anda itu perempuan. Sama anak-anak itu lembut sedikit dong..” ujar Moza.
Perempuan itu memandang Moza dengan pandangan mengejek. “memang kamu siapa berani ngatur-ngatur saya? Ini itu nggak ada hubungannya ama kamu!”
“tapi mbak, Ninda masih anak-anak. Anda tidak bisa memukul dia sembarangan. Apalagi Ninda tidak salah apa-apa. Mbak kan yang meninggalkan dia saat mbak membeli es?” cecar Moza tanpa ampun.
“apanya yang tidak bisa? Ninda anak saya. Kammu nggak berhak buat ngelarang saya mukul Nanda. Toh kamu juga bukan siapa-siapanya Nanda..”
Aku pun menarik tangan Moza untuk segera pergi dari sini dan meninggalkan debat ini.
“gue nggak trima kalo anak kecil di pukul kayak gitu!” seru Moza, emosi.
“iya gue tau. Gue juga gitu. Tapi emang bener kita bukan siapa-siapannya.”
“tapi..”
“udah ah.. lupain aja. Pulang yuk!”

“gue aja yang nyetir..” usulku.
“tapi..”
“loe kan pasti capek naik sepeda dari rumah lo eke Bandar.” Ucapku sedikit manja.
“oke deh..” jawab Moza.
Kami kembali bercerita tentang Ninda. Namun ada perasaan janggal saat aku membonceng tubuh Moza. Aku merasa melayang tak menentu.
Namun aku mencoba mengalihkan perhatianku dengan memikirkan kenangan-kenangan yang dulu bersama Moza.
“Awas Riisss!!!” teriak Moza.
Aku tersadar bahwa di depanku ada sebuah truk yang besar. Moza melompat dari sepeda dan mendorong sepedaku ke tepi dengan kuat. Sampai aku menabrak pohon dan terjatuh. Darah mengalir dari dahiku. Aku merasakan sakit yang bukan main. Aku juga sempat mendengarkan decit rem truk. Aku mencoba bangkit. Namun aku terlalu lemah. Aku menoleh. Mencari Moza.
Aku melihat kerumunan orang yang jumlahnya sekitar 15 orang. Aku juga ingin bergabung disana. Ingin melihat ada apa. namun aku melihat tangan seseorang yang tergeletak di bawah kaki orang-orang.
Aku berdiri dengan seluruh kekuatanku yang tersisa. Tidak peduli dengan sakit yang kurasa dan aku terus menerobos kerumunan orang itu.
Jaket itu aku pernah memeluknya! Aku menelitinya lagi. Aku melihat wajahnya.
“MOZAAAAAA!!!!” teriakku. Darah Moza juga keluar dari kepala bagian kirinya.
“telepon ambulan..” kata seseorang di anatara kerumunan.
Ingin aku memeluk tubuh seseorang yang aku sayangi itu. Namun aku terlalu takut.
Terlalu takut untuk menyadari bahwa aku tidak akan bersamanya lagi..

-----II-----






Aku duduk di atas tanah yang menyimpan jasadnya. Aku tak lagi menangis. Aku sudah terlalu lelah untuk menangis. Amam masih menungguku di samping perkuburan.
“Ris..”
Aku menoleh. Andin langsung memelukku. Menangis di pelukanku.
“gue nggak nyangka bakal jadi kayak gini.” Kata Andin.
Lalu Andin melepas pelukannya dariku, tersenyum lalu pergi meninggalkanku.
Tanpa sadar, air mata yang aku kira sudah membeku, tetap mengalir. Dan entah kenapa, tiba-tiba aku menyanyikan lagu ini. Aku tidak tahu.
kirim aku malaikatmu.. Biar jadi kawan hidupku.. Dan tunjukkan jalan yang memang kau pilihkan untukku.. kirim aku.. malaikatmu, karna ku sepi berada di sini.. dan di dunia ini aku tak mau sendiri..
Aku memeluk batu nisan yang bertuliskan nama Moza Syahputra.
“Za, gue sayang ama loe. Loe juga sayang ama gue kan?” bisikku. Lalu bangkit berdiri untuk segera beranjak dari tempat ini.
Saat aku akan menaiki mobil, aku menyempatkan diri untuk emnoleh dan aku merasa Moza masih ada di sana. Dengan senyum yang pasti akan sangat ku rindukan.
Angin berhembus. Menggerakkan daun-daun pepohonan yang terasa menari. Aku merasa ada seseorang yang berbisik,
“aku memang sayang sama kamu.. Please keep my love..”
Aku tersenyum, mengangguk dan meninggalkan tempat peristirahatan terakhir untuk Moza ini.


-----THE END-----